Tahu Tamanan, Gurihnya Sampai ke Dalam
TAHU Tamanan. Begitu orang-orang biasa menyebut tahu yang diproduksi secara tradisional di beberapa desa di Tamanan ini. Tahu dari Tamanan ini dikenal memiliki citarasa yang sangat khas. Bahkan di pasaran, tahu yang bukan buatan Tamanan pun sering diklaim tahu Tamanan agar lebih laris.
Puluhan industri tahu tersebar di beberapa desa di kecamatan Tamanan. Di antaranya di desa Kalianyar, Sumber Kemuning dan desa Tamanan sendiri. Dari situ, ratusan orang menggantungkan hidupnya dari pembuatan kuliner secara tradisional ini. Mulai dari penyedia bahan baku, pengolah, penyedia bahan bakar kayu hingga penjual.
Nikmatnya tahu khas Tamanan diyakini karena ketersediaan air bersih yang melimpah di sana. Air menjadi salah satu faktor penting dalam pembuatan makanan ter buat dari kacang kedelai ini. Dwi Wahyudi Camat Tamanan mengatakan, tahu tamanan memang terkenal sudah lama bahkan setiap ada tamu di kediamannya serta ke kantor camat dirinya selalu menyuguhkan tahu tersebut. Kemungkinan besar, kata dia, tahu tamanan yang lezat tersebut tidak lepas kondisi air bersih yang melimpah. Sehingga, proses pembuatan tahu tetap terjaga kebersihannya. Selain tahu yang dicari orang saat berkunjung ke Tamanan adalah desa wisatanya yang terletak di Desa Kalianyar. Tidak jarang para wisatawan asing, diajak mengikuti dan menjalani proses pembuatan tahu.
Diana, salah seorang warga setempat mengaku tahu Tamanan lebih enak dari tahu lainya. Umumnya, kata dia, rasa tahu lain ada sedikit pahit, sedangkan tahu Tamanan tidak ada. Selain itu. terdapat rongga kosong bagian dalamnya Sehingga, gurih dan renyah dan tak kalah dengan tahu Sumedang. Rasa gurih tahunya juga meresap ke bagian dalam.
Sementara Mursidi pengrajin tahun desa Tamanan mengatakan bias jadi air bersih yang membuat tahu Tamanan lebih enak. "Umumnya lokasi pembuatan dekat sungai. Tapi coba punya saya kan tidak Air yang dipakai bukan air sungai tapi air sumber." katanya.
Renyah tahu Tamanan Ini Juga dari proses pengorengan. Ada dua sampai tiga kali tahap untuk mengoreng tahu. 'Kalau biasanya hanya sekali goreng saja kan, ini yang buat tahu lebih mengembang. katanya. Dalam sehari, dia bisa menghasilkan 2,5 kuintal sampai tiga kuintal tahu atau setara dengan 25 ribu potong tahu ukuran kecil. Untuk nominal Mursidi mendapatkan omzet perhari berkisar tiga juta rupiah dan satu kantong kresek berisi tahu dia menjual lima ribu. Selama 16 tahun dia membukan usaha pembuatan tahu, sampai sekarang proses pembuatan tidak jauh beda.
Pemasaran tahu produksinya tersebut tidak hanya di Bondowoso saja tapi sudah merambah ke luar kota. Mulai dari Jember, Besuki, Situbondo bahkan Probolinggo. 'Kalau beli rutin, itu pracangan sayur Sedangkan skala besar dari pedagang luar kota," tambahnya.
Dia bisa mengerti bagaimana pembuatan tahu, dari satu pegawainya yang dulu pernah bekerja di pabrik tahu besar di Tamanan. "Ya mungkin banyak orang Tarnanan buka usaha pembuatan tahu, karena dulu ada pabrik tahu besar disini. Kalau sekarang perusahaan tersebut tutup.'* ungkapnya.
Permasalahan kemasan yang kurang bagus, kata dia, bukan menjadi hambatan, lamaran jika di rubah dengan kemasan bagus bisa jadi para pelanggannya akan kabur, sebab harga akan naik sedikit. "Yang beli kebanyakan para pedagan di pasar, bukan dari supermarket," jelasnya.
Sementara Farida pengusaha tahu dari Desa Kalianyar Juga lebih baik dikemas dengan kresek dari pada dikemas yang lebih bagus seperti toko-toko. "Kalau mahal sedikit pracangan tidak mau beli. Saat kedelai naik, ya ukurannya tahu Yang diperkecil harga tetap," jelasnya.
Meski banyak perusahaan tahu di tamanan yang membuka lapangan kerja, sampai sekarang tidak ada bantuan alat atau dana dari pemerintah. "KTP dan KK sering di pinjam, tapi dana bantuan tidak kurun, malah yang turun ke pedangang bakso," tukasnya.
Sementara Mursidi pengrajin tahun desa Tamanan mengatakan bias jadi air bersih yang membuat tahu Tamanan lebih enak. "Umumnya lokasi pembuatan dekat sungai. Tapi coba punya saya kan tidak Air yang dipakai bukan air sungai tapi air sumber." katanya.
Renyah tahu Tamanan Ini Juga dari proses pengorengan. Ada dua sampai tiga kali tahap untuk mengoreng tahu. 'Kalau biasanya hanya sekali goreng saja kan, ini yang buat tahu lebih mengembang. katanya. Dalam sehari, dia bisa menghasilkan 2,5 kuintal sampai tiga kuintal tahu atau setara dengan 25 ribu potong tahu ukuran kecil. Untuk nominal Mursidi mendapatkan omzet perhari berkisar tiga juta rupiah dan satu kantong kresek berisi tahu dia menjual lima ribu. Selama 16 tahun dia membukan usaha pembuatan tahu, sampai sekarang proses pembuatan tidak jauh beda.
Pemasaran tahu produksinya tersebut tidak hanya di Bondowoso saja tapi sudah merambah ke luar kota. Mulai dari Jember, Besuki, Situbondo bahkan Probolinggo. 'Kalau beli rutin, itu pracangan sayur Sedangkan skala besar dari pedagang luar kota," tambahnya.
Dia bisa mengerti bagaimana pembuatan tahu, dari satu pegawainya yang dulu pernah bekerja di pabrik tahu besar di Tamanan. "Ya mungkin banyak orang Tarnanan buka usaha pembuatan tahu, karena dulu ada pabrik tahu besar disini. Kalau sekarang perusahaan tersebut tutup.'* ungkapnya.
Permasalahan kemasan yang kurang bagus, kata dia, bukan menjadi hambatan, lamaran jika di rubah dengan kemasan bagus bisa jadi para pelanggannya akan kabur, sebab harga akan naik sedikit. "Yang beli kebanyakan para pedagan di pasar, bukan dari supermarket," jelasnya.
Sementara Farida pengusaha tahu dari Desa Kalianyar Juga lebih baik dikemas dengan kresek dari pada dikemas yang lebih bagus seperti toko-toko. "Kalau mahal sedikit pracangan tidak mau beli. Saat kedelai naik, ya ukurannya tahu Yang diperkecil harga tetap," jelasnya.
Meski banyak perusahaan tahu di tamanan yang membuka lapangan kerja, sampai sekarang tidak ada bantuan alat atau dana dari pemerintah. "KTP dan KK sering di pinjam, tapi dana bantuan tidak kurun, malah yang turun ke pedangang bakso," tukasnya.
Limbah Tahu Masih Menjadi Persoalan
Sementara itu. Selarnet, aktivis Hijau Madani mengungkapkan, ada kendala serius terkait dengan makin berkembangnya tahu Tamanan ini. Menurtnya, sampai saat ini belum ada solusi untuk mengatasi banyaknya limbah tahu yang dibuang langsung ke sungai. "Pencemaran sungai dari limbah tahu ini sudah berlangsung bertahu-tahu dan sampai sekarang belum teratasi," ujarnya.
Hal itu tentu sangat disayangkan. Karena air sungai yang tercemar dan mengalir ke sawah-sawah peTani itu akan merusak lahan pertanian. Harus ada solusi konkret yang segera diberikan. Pemerintah daerah menurutnya harus mengambil langkah agar persoalan tersebut bisa segera teratasi.
Sementara itu. Selarnet, aktivis Hijau Madani mengungkapkan, ada kendala serius terkait dengan makin berkembangnya tahu Tamanan ini. Menurtnya, sampai saat ini belum ada solusi untuk mengatasi banyaknya limbah tahu yang dibuang langsung ke sungai. "Pencemaran sungai dari limbah tahu ini sudah berlangsung bertahu-tahu dan sampai sekarang belum teratasi," ujarnya.
Hal itu tentu sangat disayangkan. Karena air sungai yang tercemar dan mengalir ke sawah-sawah peTani itu akan merusak lahan pertanian. Harus ada solusi konkret yang segera diberikan. Pemerintah daerah menurutnya harus mengambil langkah agar persoalan tersebut bisa segera teratasi.
Menurutnya, pihaknya sebelumnya sudah pernah mengusulkan agar ada pengolahan limbah bagi setiap industri tahu. "Karena limbah tahu Ini bisa diolah untuk dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat," pungkasnya.
Diminati Wisatawan
KEBERADAAN puluhan industri tahu yang tersebar di sejumlah desa di Tamanan menjadi penunjang bagi pengembangan pariwisata di kecamatan ini. Industri tradisional itu ternyata menarik minat wisatawan yang datang untuk melihat langsung proses pembuatan tahu.
Marc Andreas Schimmel, salah seorang pelancong Jerman ini misalnya, dia antusias sekali saat berkunjung ke tempat pembuatan tahu. Dia mengenal kuliner ini dengan sebutan Indonesia Tofu. Bahkan pria yang tinggal selama beberapa hari di desa Kalianyar ini cukup gemar menikmati khasnya tahu Tamanan.
Tahu memang menjadi salah satu daya tarik wisata di Tamanan di sisi kuliner. Selain itu, banyak daya tarik lain yang menjadi penunjang bagi kawasan desa wisata ini. Mulai dari kerajinan genteng, gerabah, batik hingga pandai besi. Marc pun cukup senang bisa melihat langsung proses pembuatan tahu. Sesuatu yang tak pernah dia jumpai sebelumnya.
Kendati begitu, ada sesuatu yang mengganjal baginya. Menurutnya, proses pembuatan tahu harus lebih rapi dan higienis, sehingga semakin menambah daya tarik bagi wisatawan asing.
Jadi Objek Wisata Edukasi Bagi Siswa
Selain turis manca. aktivitas pembuatan tahu ini juga mulai diminati oleh wisatawan domestik, termasuk untuk kegiatan edutour bagi para pelajar. Seperti yang terlihat beberapa waktu lalu ketika sekitar 40 siswa-siswi dari SMPK Indra Prastha Bondowoso mendatangi desa-desa wisata di Tamanan. Mereka melihat langsung bagaimana potensi dan kegiatan perekonomian masyarakat menjadi daya tarik wisata.
Salah satu yang dikunjungi adalah sentra pembuatan tahu yang banyak tersebar di desa Kalianyar, Tamanan. Desa ini menjadi salah satu desa yang menjadi sentra pembuatan tahu selain desa Tamanan dan desa Kemuning. Pembuatan tahu menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang banyak digeluti masyarakat di desa ini. Puluhan pabrik tahu dan ratusan warga menggantungkan hidup dari usaha pembuatan tahu tersebut.
Mayoritas pelajar yang baru duduk di kelas I SMPK itu pun takjub dengan proses pembuatan tahu. Karena meski hampir setiap hari mengonsumsi tahu, ternyata mereka tidak pernah melihat langsung proses pembuatannya. "Saya baru sekarang melihat langsung cara membuat tahu," ungkap Ernestine Pramudya Wardhani, 12, salah satu siswa yang ikut eduwisata siang itu. Apa yang dilakukan oleh para siswa kemarin juga menjadi langkah maju bagi pengembangan wisata, khususnya desa wisata di Bondowoso. Karena sebelumnya, mayoritas kunjungan ke desa-desa wisata di Tamanan adalah wisatawan asing. Diharapkan, kegiatan-kegiatan semacam ini bisa mendorong percepatan pembangunan desa wisata.
"Paling tidak, para siswa yang merupakan putra daerah ini juga mengetahui langsung tentang potensi di daerahnya yang bisa dikemas sebagai pariwisata," ujar Iswahyudi, ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bondowoso. Setelah mengetahui secara langsung, maka diharapkan mereka bisa ikut mencintai dan Ikut mempromosikannya secara lebih luas.
Diminati Wisatawan
KEBERADAAN puluhan industri tahu yang tersebar di sejumlah desa di Tamanan menjadi penunjang bagi pengembangan pariwisata di kecamatan ini. Industri tradisional itu ternyata menarik minat wisatawan yang datang untuk melihat langsung proses pembuatan tahu.
Marc Andreas Schimmel, salah seorang pelancong Jerman ini misalnya, dia antusias sekali saat berkunjung ke tempat pembuatan tahu. Dia mengenal kuliner ini dengan sebutan Indonesia Tofu. Bahkan pria yang tinggal selama beberapa hari di desa Kalianyar ini cukup gemar menikmati khasnya tahu Tamanan.
Tahu memang menjadi salah satu daya tarik wisata di Tamanan di sisi kuliner. Selain itu, banyak daya tarik lain yang menjadi penunjang bagi kawasan desa wisata ini. Mulai dari kerajinan genteng, gerabah, batik hingga pandai besi. Marc pun cukup senang bisa melihat langsung proses pembuatan tahu. Sesuatu yang tak pernah dia jumpai sebelumnya.
Kendati begitu, ada sesuatu yang mengganjal baginya. Menurutnya, proses pembuatan tahu harus lebih rapi dan higienis, sehingga semakin menambah daya tarik bagi wisatawan asing.
Jadi Objek Wisata Edukasi Bagi Siswa
Selain turis manca. aktivitas pembuatan tahu ini juga mulai diminati oleh wisatawan domestik, termasuk untuk kegiatan edutour bagi para pelajar. Seperti yang terlihat beberapa waktu lalu ketika sekitar 40 siswa-siswi dari SMPK Indra Prastha Bondowoso mendatangi desa-desa wisata di Tamanan. Mereka melihat langsung bagaimana potensi dan kegiatan perekonomian masyarakat menjadi daya tarik wisata.
Salah satu yang dikunjungi adalah sentra pembuatan tahu yang banyak tersebar di desa Kalianyar, Tamanan. Desa ini menjadi salah satu desa yang menjadi sentra pembuatan tahu selain desa Tamanan dan desa Kemuning. Pembuatan tahu menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang banyak digeluti masyarakat di desa ini. Puluhan pabrik tahu dan ratusan warga menggantungkan hidup dari usaha pembuatan tahu tersebut.
Mayoritas pelajar yang baru duduk di kelas I SMPK itu pun takjub dengan proses pembuatan tahu. Karena meski hampir setiap hari mengonsumsi tahu, ternyata mereka tidak pernah melihat langsung proses pembuatannya. "Saya baru sekarang melihat langsung cara membuat tahu," ungkap Ernestine Pramudya Wardhani, 12, salah satu siswa yang ikut eduwisata siang itu. Apa yang dilakukan oleh para siswa kemarin juga menjadi langkah maju bagi pengembangan wisata, khususnya desa wisata di Bondowoso. Karena sebelumnya, mayoritas kunjungan ke desa-desa wisata di Tamanan adalah wisatawan asing. Diharapkan, kegiatan-kegiatan semacam ini bisa mendorong percepatan pembangunan desa wisata.
"Paling tidak, para siswa yang merupakan putra daerah ini juga mengetahui langsung tentang potensi di daerahnya yang bisa dikemas sebagai pariwisata," ujar Iswahyudi, ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bondowoso. Setelah mengetahui secara langsung, maka diharapkan mereka bisa ikut mencintai dan Ikut mempromosikannya secara lebih luas.
Sumber:
Radar Ijen, 25/05/2015
