Kegigihan Marsudin Melestarikan Bahasa Madura (2-habis)

Kegigihan Marsudin Melestarikan Bahasa Madura
Marsudin menunjukkan macapat enam tembang yang mengisahkan tentang kepahlawasan Kyai Santawi,
salah satu pejuang asli Bondowoso.

InfoBondowoso.net - Dedikasi Marsudin dalam menjaga keberlangsungan Bahasa Madura dilakukan dalam berbagai cara. Salah satunya dengan membikin epos atau cerita kepahlawanan Kyai Santawi dalam bentuk macapat berbahasa Madura.

Selain pakar dalam keilmuan dan kaidah-kaidah Bahasa Madura, Marsudin juga memiliki perhatian yang cukup besar terhadap sejarah-sejarah perjuangan rakyat Bondowoso. Dia pun berupaya mengenalkan kembali sejarah-sejarah itu dengan caranya sendiri. Tak jauh-jauh dari keahliannya, yaitu dengan menciptakan macapat, atau seni melagukan bahasa Madura.

Salah satu kisah kepahlawanan yang sudah dia ceritakan dalam macapat adalah kisah tentang perjuangan Kyai Santawi mengusir penjajah belanda dari bumi Bondowoso. Kyai Santawi adalah pahlawan dari Prajekan yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk tanah air tercintanya.

Di era agresi militer Belanda jilid dua, Kyai Santawi dipercaya sebagai pimpinan pasukan Hizbullah/Sabilillah anak cabang Prajekan. Sebagai tokoh kala itu, Kyai Santawi pun terlibat dalam berbagai perang gerilya menghadapi penjajah Belanda. Setelah ditangkap dan dijebloskan ke penjara, Kyai Santawi pada tahun 1948 akhirnya diekskusi mati tentara Belanda. Kini jasadnya bersemayam di tanah kelahirannya, desa Prajekan Lor Kecamatan Prajekan.

Oleh Marsudin cerita tentang perjuangan Kyai Santawi itu dikisahkan dengan kata-kata sastrawi nan indah melalui macapat berbahasa madura itu. Untuk menulis macapat itu, Marsudin harus melakukan riset ke sana-sini.

Apalagi, tak banyak literasi sejarah yang mengupas tentang kepahlawanan Santawi ini. Untungnya saja, ada beberapa sanak saudara Kyai Santawi yang saat ini masih ada. Sehingga kisah tentang Santawi ini bisa terungkap. Bahkan ada petugas sipir saat Kyai Santawi dipenjara yang juga bersaksi bagaimana kondisi Kyai Santawi waktu itu.

Macapat tentang Kyai Santawi karangan Marsudin itu berisikan enam tembang atau jenis lagu. Yaitu tembang Kasmaran, artate, dhurma, senom dan salangit. Masing-masing tembang menceritakan tentang tentang berbagai episode perjuangan Kyai Santawi. "Setiap tembang cara melagukannya juga berbeda-beda," ungkap Marsudin.

Macapat Lima Tembang Kyai Santawi karya Marsudi ini sudah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak Pemerintah daerah melalui Perpustakaan juga berencana untuk mencetak lima tembang macapat itu. Selain itu, apresiasi juga datang dari Pusat Kebudayaan Jogjakarta yang berencana mengabadikan macapat tersebut Pada 17 Agustus lalu, macapat lima tembang ini juga ditampilkan dalam malam apresiasi terhadap Kyai Santawi yang digelar oleh pemerintah desa Prajekan Lor.

Kisah kepahlawanan Kyai Santawi ini juga telah dia selipkan dalam LKS untuk SD yang dia susun. Kisah itu dia beri judul Semangat se ta' taber (Semangat yang tak luntur). "Harapannya anak-anak SD sudah mengenal sejak dini tentang pahlawan-pahlawan lokal mereka. Sehingga mereka juga bisa meneladaninya," ujarnya.

Perhatian Marsudin terkait dengan sejarah lokal Bondowoso juga menggugahnya untuk membikin macapat tentang kisah-kisah perjuangan lain dalam Bahasa Madura. Dia ingin membukukan perjuangan EJ Magenda, salah satu pahlawan Bondowoso dalam pertahanan atas serangan penjajah di gunung Purnama. Termasuk juga yang dia ingin bukukan adalah Babat Bondowoso.

Terlepas dari itu semua, upaya pelestarian Bahasa Madura tentu tak bisa hanya dipasrahkan kepada Marsudin semata. Pemerintah haruslah memiliki peranan yang kuat agar pelestarian Bahasa Madura ini bisa terus dilakukan.

Dalam berbagai upaya itu, Marsudin merasa upaya pemerintah masih setengah hati. Semisal dalam penempatan guru pengajar Bahasa Madura di sekolah-sekolah, banyak yang ddak mumpuni. Bahkan di sekolah-sekolah terkesan asal ada yang mau mengajar Bahasa Madura, itu sudah cukup.

Persoalan kompleks Bahasa Madura bukanlah hal yang sepele. "90 persen masayarakat Bondowoso menggunakan Bahasa Madura. Tapi berapa persen yang menggunakan Bahasa Madura dengan baik dan benar?" ujarnya. Hal itu tentu menjadi persoalan tersendiri. Karena bisa jadi, sekian tahun ke depan, Bahasa Madura yang baik dan benar benar-benar punah.

Namun begitu, Marsudin optimis jika Bahasa Madura masih akan tetap bertahan. Asalkan, ada upaya yang kuat, termasuk dari pihak pemerintah melalui sekolah-sekolah untuk benar-benar mengaplikasikan Bahasa Madura. Paling tidak, guru pengajar Bahasa Madura harus benar-benar yang memahami.

Hal itu menurutnya sangat penting. Karena jangan sampai murid mendapatkan pelajaran yang kurang tepat. "Jangan sampai ketika murid, ketika benar-benar mendalami bahasa ketika kuliah nanti, mereka baru sadar bahwa apa yang diajarkan gurunya dulu justru keliru," ungkapnya.

Selain itu, selama ini dia juga banyak menemukan materi pembelajaran Bahasa Madura yang terdapat di bukubuku LKS justru banyak yang keliru. Saat menemukan hal itu, dia tak ragu datang ke sekolah-sekolah untuk berdiskusi dengan para gurunya.

Di lain sisi, dia juga berharap agar pemerintah daerah Bondowoso khususnya, memiliki perhatian bagaimana meningkatkan ketertarikan terhadap bahasa Madura. Salah satu yang dia impikan yaitu adanya lomba membaca Bahasa Madura, terlebih lomba mendengdangkan tembang macapat antar kabupaten.


- Radar Ijen, 28/03/15 -