Ketika Siswa Melakukan Edutour ke Desa Wisata
![]() |
| EDUKASI PLUS: Siswa ketika melihat langsung proses pembuatan tahu di desa Kalianyar, Tamanan. |
BONDOWOSO, InfoBondowoso.net - Berbagai potensi di desa-desa wisata di Tamanan sudah cukup banyak digemari oleh wisatawan asing. Di sisi lain, berbagai potensi tersebut juga bisa menjadi wisata edukatif bagi kalangan pelajar.
Senin pagi kemarin (15/12), sekitar 40 siswa-siswi dari SMPK Indra Prastha Bondowoso mendatangi desa-desa wisata di Tamanan. Mereka melihat langsung bagaimana potensi dan kegiatan perekonomian masyarakat menjadi daya tarik wisata.
Salah satu yang dikunjungi adalah sentra pembuatan tahu yang banyak tersebar di desa Kalianyar, Tamanan. Di desa ini, pembuatan tahu memang menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang banyak digeluti masyarakat. Puluhan pabrik tahu dan ratusan warga menggantungkan hidup dari usaha pembuatan tahu tersebut.
Mayoritas pelajar yang baru duduk di kelas I SMPK itu pun takjub dengan proses pembuatan tahu. Karena meski hampir setiap hari mengonsumsi tahu. ternyata mereka tidak pernah melihat langsung proses pembuatannya!
"Saya baru sekarang melihat langsung cara membuat tahu," ungkap Ernestine Pramudya Wardhani, 12, salah satu siswa yang ikut eduwisata kemarin.
Setelah puas melihat proses pembuatan tahu, para siswa ini langsung diajak untuk melihat proses pembuatan batik. Seperti diketahui, industri kerajinan batik yang banyak berkembang di kawasan desa wisata Tamanan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi turis mancanegara. Selain kepincut untuk membeli batik untuk dijadikan oleh-oleh, para turis juga tertarik untuk mendesain dan membuat batik sendiri.
Mereka mendatangi salah satu sanggar batik yaitu Batik SMK Tamanan (Baska). Di tempat ini, para siswa tak hanya melihat proses pembuatan batik. Lebih jauh, mereka juga langsung berpraktik membuat batik sendiri. Mereka juga diajarkan untuk mendesain motif-motif batik lokal khas Bondowoso.
Tak berhenti di situ, para siswa ini juga diajak untuk melihat pembuatan gerabah tradisional di desa Sumber Kemuning, Tamanan. Pada era 90-an, mayoritas masyarakat di desa ini menggantungkan hidup dari membuat gerabah secara tradisional. Namun sayangnya, kini hanya tersisa beberapa orang saja yang menggelutinya.
"Kami senang sekali dengan kegiatan hari ini. Banyak hal baru yang bisa kita pelajari langsung dan sebelumnya tidak pernah kita ketahui," ujar Ernes. Dia pun yakin jika potensi-potensi itu sangat layak dikemas dengan lebih baik lagi untuk mendukung pengembangan pariwisata Bondowoso.
Selain melihat dan belajar langsung kegiatan masyarakat di pedesaan, yang unik dalam kegiatan kemarin adalah para peserta harus menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Hal itu menjadi salah satu metode yang dilakukan pihak sekolah untuk lebih memperdalam kemampuan bahasa asing siswa.
Namun di samping itu, pihak sekolah juga berharap dengan kegiatan edutour ke desa wisata juga menambah kecintaan siswa terhadap potensi yang ada di daerah. "Ini baru pertama kita kegiatan ke desa wisata. Sebelumnya sudah ada kegiatan seperti ini tapi biasanya ke luar daerah,” ungkap Hendro, guru pendamping yang ikut dalam kegiatan kemarin.
Apa yang dilakukan oleh para siswa kemarin juga menjadi langkah maju bagi pengembangan wisata, khususnya desa wisata di Bondowoso. Karena sebelumnya, mayoritas kunjungan ke desa-desa wisata di Tamanan adalah wisatawan asing. Diharapkan, kegiatan-kegiatan semacam ini bisa mendorong percepatan pembangunan desa wisata.
"Paling tidak, para siswa yang merupakan putra daerah ini juga mengetahui langsung tentang potensi di daerahnya yang bisa dikemas sebagai pariwisata," ujar Slamet Riyadi, pengelola desa wisata. Setelah tahu, maka diharapkan mereka bisa ikut mencintai dan ikut mempromosikannya secara lebih luas.
- Jawa Pos, 16/12/14 -
