Harga Gula Petani Tebu Bondowoso Dibandrol Murah

Harga Gula Petani Tebu Bondowoso Dibandrol Murah

BONDOWOSO, InfoBondowoso.net - Nasib petani tebu di Bondowoso semakin merana saja. Karena harga lelang gula milik petani tebu di Bondowoso hanya dihargai dengan harga Rp 8.025 per kilogram belum lama ini. Padahal dana talangan tebu dari PTP Nusantara XI adalah Rp 8.250 per kilogram.

Cung Kusaeri, tokoh petani tebu Bondowoso mengatakan gula milik petani yang dikelola PG Pradjekan dihargai sangat rendah. Karena sudah tidak ada yang mau membeli gula. "Akhirnya tim lelang dari PG Pradjekan menjual harga gula pada angka sangat rendah, yakni Rp 8.025 per kilogram," Terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Padahal dana talangan yang harus dikeluarkan oleh PTP Nusantara XI Surabaya sebesar Rp 8.250 per kilogram. "Namun harga lelang gula malah jatuh. Nasib petani pun semakin tidak menentu," katanya. Meski begitu, Cung tidak bisa menyalahkan manajemen PG Pradjekan. "PG tidak salah. Karena memang harga gula di pasaran jatuh," katanya.

Bahkan Cung mengatakan langkah PG Pradjekan sudah benar dengan melakukan lelang gula. "Daripada gula tidak laku dan tersimpan lama di dalam gudang, lebih baik dijual meski dengan harga rendah," terangnya.

Sementara itu, Agus Ansori seorang tokoh petani tebu di Bondowoso mengatakan, rendahnya harga gula lokal di pasaran karena adanya kebijakan pemerintah yang mendua. "Di satu sisi pemerintah mendorong petani untuk tanam tebu. Namun di sisi lainnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan impor gula," terangnya.

Akibatnya dengan membanjirnya gula impor dari luar, terutama dari Thailand atau Vietnam, membuat harga gula lokal semakin jatuh. Sebab, gula impor yang berupa raw sugar itu dijual dengan harga yang rendah. "Ini penyebab kenapa harga gula lokal jatuh," tegasnya.

Selain itu, Agus menuding ada permainan para mafia gula di Indonesia yang melibatkan pengusaha besar. Akibatnya harga lelang gula di PTP Nusantara XI jatuh. Selain itu, petani tebu di Bondowoso sampai saat ini mengeluhkan dana talangan yang masih belum cair. "Jika dibiarkan terus, petani akan mogok untuk tidak tanam tebu," katanya.

Namun, meski kondisi harga gula semakin rendah, para petani tebu tampak tetap saja mengirim tebunya ke PG Pradjekan untuk digiling. Sebab, mereka sudah tidak menemukan jalan lagi selain harus segera menjadikan tebu untuk berubah menjadi gula pasir.


- Jawa Pos, 08/10/14 -