Unik, Ada Air Terjun Pahit di Kaki Gunung Ijen
![]() |
| Kali Pahit di kaki Gunung Ijen, Kab. Bondowoso © Nathalie Stravers |
Transportasi terakhir dari Terminal Bondowoso menuju Desa Sempol berupa minibus (sejenis elf) dengan kapasitas muat 18 penumpang. Untuk seorangnya, sopir mengenakan ongkos Rp 20.000.
Masalahnya sekarang adalah dari Sempol menuju Paltuding, ongkos ojek seorangnya sekitar Rp 250.000 (PP). Wah cukup mahal pikir saya, kalau begini sudah bukan backpackeran lagi namanya.
Atas budi baik Pak Bambang, selaku kepala Terminal Bondowoso, akhirnya kami dihubungkan dengan Pak Man, pengemudi sekaligus pemilik mobil elf yang mengantar kami menuju Sempol. Desa Sempol merupakan desa terakhir di kaki Gunung Ijen, sebelum sampai di pos pemeriksaan Paltuding.
Dengan hanya memberikan tambahan ongkos sebesar Rp 30.000 seorangnya, Pak Man menyuruh keponakan dan beberapa temannya mengantar kami sampai ke pos Paltuding.
Lumayan tarif itu cukup meringankan bagi kami. Sementara jarak Desa Sempol dengan pos Paltuding cukup jauh, kira-kira 15 kilometer dengan medan naik-turun, namun jalan sudah beraspal mulus.
Setelah menempuh perjalanan sejauh lebih kurang 10 kilometer dari Desa Sempol, tim menghentikan kendaraan. Kami menyaksikan banyak orang berjalan menuju sebuah bukit. Rupanya ada air terjun di sana.
Keponakan Pak Man menyebutnya dengan istilah Banyu Pahit. Sementara saya mendengar sendiri dari pengunjung lain kalau tempat itu bernama Kali Pahit.
Kami minta waktu sebentar kepada keponakan Pak Man dan tukang ojek lainnya untuk mampir sebentar. Hitung-hitung istirahat sambil menikmati pesona alam berupa air terjun mini di kaki Gunung Ijen itu. (Baca juga: 3 Air Terjun Cantik di Kaki Gunung Ijen)
Terlihat cukup banyak wisatawan yang menyinggahi lokasi ini sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju pos Paltuding. Panorama alam sekitar air terjun mini Banyu (Kali) Pahit ini juga cukup indah. Sayangnya belum ada fasilitas pendukung di sana. Minimal sarana MCK (toilet) atau warung kuliner.
Saya mencoba memberanikan diri naik lebih tinggi menuju bagian atas bukit. Penasaran ingin melongok lebih jauh seperti apa air terjun mini ini. Beberapa wisatawan sengaja menampung airnya ke dalam jerigen plastik. "Untuk merendam kaki saya yang sakit gatal-gatal Dik," ungkapnya kepada saya siang itu.
Masuk akal memang, dinamakan Banyu atau Kali Pahit karena kandungan belerang air terjun mini ini cukup tinggi. Unsur belerang itulah yang menyebabkan rasa pahit pada air terjun ini.
"Itu mungkin pengaruh rembesan Kawah Ijen Mas," duga salah seorang pengunjung lainnya.
Bila diperhatikan, cucuran air terjun mini ini memang berwarna putih, sedikit hijau kekuningan. Meski demikian tetap tak mengurangi minat para wisatawan untuk mengunjunginya.
Potensi wisata alam ini perlu sentuhan dan perlu dibangunnya fasilitas berupa pos persinggahan sebelum ke Paltuding untuk duduk-duduk santai di sana. Karena air terjun ini juga berpotensi sebagai objek wisata selain kawah Gunung Ijen yang menghipnosis itu.
