Tiga Pelajar SMP Terbuka Wonosari Raih Juara Lomojari Nasional
![]() |
| HARUMKAN BONDOWOSO: Tiga pelajar SMP Terbuka Wonosari Ini juara pertama Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari) untuk kategori rumpun kriya tektil, tenun dan batik di Jakarta. |
Tiga pelajar SMP Terbuka Wonosari, Bondowoso, baru saja menjadi juara pertama Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari) antar SMP Terbuka se-Indonesia di Jakarta.
Sabtu sore, bertempat di ruangan kelas SMPN 1 Wonosari Bondowoso, para pelajar SMP Terbuka Wonosari terlihat sibuk menata bangku-bangku. Maklum, mereka ngampung belajar di sekolah itu untuk belajar membatik. Pelajaran life skill membatik sudah cukup lama diajarkan oleh guru-guru SMPN 1 Wonosari kepada para murid SMP Terbuka Wonosari.
Setiap sore para murid SMP terbuka itu belajar mata pelajaran akademik sebagaimana pelajaran di sekolah umum. Kemudian, pada malam harinya mereka belajar agama atau ngaji di pesantren yang tersebar di Kecamatan Wonosari. Di waktu tertentu, mereka belajar membatik.
Berkat talenta membatik yang cukup bagus, tiga pelajar SMP Terbuka Wonosari baru saja menjadi juara pertama dalam Lomojari antar SMP Terbuka se-lndonesia di Jakarta. Ketiga pelajar itu adalah Siti Rofiatul Laely, 15; Murnifah. 15; dan Mashudi Riyanto, 15.
Mereka mengaku cukup senang dengan raihan prestasi yang baru saja dicapai. Apalagi, kejuaraan Lomojari diikuti oleh ratusan SMP Terbuka se-Indonesia. "Alhamdulilah, kami senang bisa meraih juara pertama nasional," ungkap Laely.
Ketiga pelajar yang berasal dari keluarga kurang berada ini membikin batik tulis, batik cap dan batik kontemporer di hadapan juri dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Terbuka Kemendikbud. Mereka mengaku bekerja kompak serta saling mengisi, mulai dari menyiapkan kain batik, mendesain, membikin batik, hingga finishing. "Kalau untuk bikin batik cap dan batik kontemporer tidak membutuhkan proses atau waktu lama. Namun, untuk bikin batik tulis, membutuhkan waktu sangat lama," kataLaely. Bahkan, selembar kain batik tulis selesai paling cepat satu minggu.
Namun, ketiganya mengaku tidak asal membatik. Mereka membatik dengan penghayatan tinggi. Selain itu, mereka mengandalkan motif batik tulis khas Bondowoso, yakni daun singkong. "Bondowoso itu penghasil tape. Semua orang pasti tahu. Oleh sebab itu, kami bertiga membuat motif batik daun singkong," ujarnya.
Meski begitu, ketiganya mampu membuat batik dengan baik. "Karena kami bertiga selalu berdiskusi satu sama lain untuk menampilkan disain yang berbeda. Namun, kekhasan Bondowoso tetap ditonjolkan," katanya.
Ketika mereka berhasil menyelesaikan pembuatan batik tulis, cap, dan kontemporer, para juri terkesima. Sebab, hasil karya mereka sangat menakjubkan, meski yang menggarap batik itu berusia remaja. "Para juri sepakat memberikan nilai tinggi pada karya kami ini," katanya.
![]() |
| Tiga pelajar SMP Terbuka Wonosari Bondowoso berada di tengah (Foto: Facebook Kemdikbud) |
Tak heran jika ketiganya yang berada dalam satu kelompok mendapat juara pertama. Selain itu, mereka bertiga sepakat untuk menjadikan batik sebagai penghasilan utama saat mereka sudah dewasa kelak. "Kami akan mendirikan usaha pembuatan batik di Bondowoso. Kami akan memproduksi batik khas Bondowoso," tambah Mashudi.
Meski begitu, ketiganya tetap akan menyelesaikan sekolahnya di SMP Terbuka Wonosari. Mereka akan tetap belajar ilmu agama di pesantren di Wonosari. "Kalau sore membatik, maka pada malam hari kami belajar ilmu agama alias ngaji," katanya.
Kepala SMPN l Wonosari Prayitno mengatakan, pihaknya melakukan pembinaan terhadap SMP Terbuka Wonosari, termasuk melakukan bimbingan kepada tiga pelajar SMP terbuka itu dalam membuat batik.
"Alhamdulilah, ketiga pelajar tersebut mampu meraih prestasi nasional," katanya. Padahal, semua perwakilan SMP Terbuka se-Indonesia ikut ajang lomba tersebut. Sedangkan SMP Terbuka Wonosari hanya mengandalkan program unggulan membuat batik. "Kami membuat batik tulis, batik cap, dan batik kontemporer," ungkapnya. Sedangkan, kegiatan membatik sudah lama diajarkan kepada ratusan pelajar SMP Terbuka Wonosari yang menjadi binaan SMPN 1 Wonosari.
Di SMP Terbuka Wonosari, TKB (Tempat Kegiatan Belajar) tersebar di berbagai pesantren yang ada di desa-desa. Selama ini kegiatan pengajaran dilakukan oleh para guru SMPN 1 Wonosari. "Kami mengajari anak-anak dengan pendidikan akademik dan ketrampilan membatik," katanya.
Sementara itu, ketiga pelajar yang meraih penghargan nasional mengatakan mereka membikin batik dengan motif daun ketela pohon, stroberi, dan buah-buahan. "Ternyata, batik yang dibikin mereka mampu meraih nilai tertinggi," pungkas Prayitno.
- Jawa Pos, 07/09/14 - Kemdikbud: Daftar Pemenang LOMOJARI 2014

