Seorang Ibu Asal Bondowoso Nekat Bawa Bayi Mendaki Puncak Ijen

Nety Reisyan Kusuma Dewi dan Arka Semesta Martadi
Foto Nety Reisyana Kusuma Dewi (35) dan anak ketiganya bayi Arkan Semesta Martadi (3 bulan) yang beredar di media sosial

Seorang ibu, Nety Reisyana Kusuma Dewi (35) mampu mendaki hingga ke puncak Gunung Ijen sambil membawa bayinya yang masih berusia 3 bulan, Arkan Semesta Martadi. Keberhasilannya "menaklukan" Ijen bersama buah hatinya itu diabadikan pakai kamera dan diunggah ke media sosial.

"Saya tidak ingin dipanggil supermom hanya karena mengajak Arkan naik Gunung Ijen. Arkan tidak mungkin saya tinggalkan 24 jam di rumah karena dia masih menyusui," ujar Nety kepada Kompas.com ketika muncul fotonya di media sosial bersama anak ketiganya, Arkan Semesta Martadi di puncak Gunung Ijen yang berbatasan antara Banyuwangi dan Bondowoso.

Ia mengaku bukan tanpa pertimbangan mengajak anaknya untuk mendaki gunung setinggi 2.368 meter karena harus hunting foto, Minggu (7/9/2014). Ia melakukan persiapan ekstra seperti membawa tiga tas yang isinya peralatan anaknya.

"Tas punggung yang saya bawa berisi tiga tas kecil yang berisi barang-barang milik Arkan seperti selimut, jaket, baju, perlak, dan sarung. Tasnya saya panggul, sedang Arkan saya gendong dengan tertutup sarung dan dibungkus pakai baju tebal serta selimut. Barang dia lebih banyak dibandingkan barang saya," jelasnya sambil tertawa.

Ia juga meminta pertimbangan suaminya, Rosdi Bahtiar Martadi yang berprofesi sebagai guru. "Suami mengiyakan. Kebetulan kami sama-sama suka mendaki gunung," katanya.

Saat mengetahui membawa bayi, Nety sempat dilarang masuk oleh petugas yang berada di jalur pendakian. Tapi ia berpikir tidak mungkin meninggalkan anaknya di Paltuding karena cuacanya lebih dingin.

"Akhirnya setelah ditutup dengan sarung, saya membawa anak saya mendaki ke puncak Ijen. Perjalanan selama 3 jam mulai dari jam 1 dini hari sampai di atas jam 4 pagi," katanya.

Setelah sampai di atas ia mencari ceruk untuk berlindung dari angin sambil sesekali menyusui anaknya yang masih tertutup sarung dan selimut.

"Setelah matahari terbit saya baru keluar itu pun posisi Arkan tetap dalam selimut di gendongan saya," tambahnya.

Sambil tertawa ia bercerita bahwa banyak pendaki yang ingin foto bersama dia dan Arkan. "Tapi saya mengeluarkan dia sebentar lalu kemudian masuk lagi ke dalam gendongan," jelasnya.

Awalnya ia berencana membawa Arkan seperti membawa tas ransel di depan, namun ia khawatir dengan angin kencang di atas gunung.

"Akhirnya yang digendong dengan tangan kiri, tangan kanan kamera dan ransel di punggung," tambahnya.

Untuk keselamatan bayinya, Nety hanya mengambil foto di sekitaran puncak Ijen. Dia tidak berniat mengajak bayinya untuk turun ke kawah karena uap belerang tidak aman untuk anak seusia Arkan.

"Saya melihat bayi-bayi di wilayah Pegunungan Tibet juga biasa digendong ibunya untuk mendaki. Dan saya yakin Arkan juga bisa.

Dia mengaku hanya setengah jam di puncak Ijen lalu segera turun ke Paltuding. Agar tidak tergelincir dia memilih berpijak di jalan air. "Kalau di jalan biasanya kan bisa terpeleset," jelasnya.

Setelah sampai di Paltuding sekitar setengah 7 pagi ia membuka selimut Arkan dan menjemurnya di bawah terik matahari. "Sama sekali tidak rewel. Dia malah tertawa-tawa seperti menikmati perjalanan," katanya.

Ia mengaku hanya memberikan pijatan ke anaknya agar merasa nyaman. "Setelah itu ia langsung tidur nyenyak. Dan sampai hari ini dia masih sehat," jelasnya.

Tak hanya bermodal nekat

Perempuan kelahiran Bondowoso, 11 Agustus 1979 tersebut mengaku bukan bermodal nekat membawa anaknya mendaki Gunung Ijen. Perempuan berhijab tersebut mengaku sudah hapal karakter Gunung Ijen.

"Saat masih SMA saya pernah menjadi mitra pelestari Taman Nasional Baluran. Hampir setiap liburan saya ke Gunung Ijen untuk melakukan sosialisasi kepada pendaki seperti larangan vandalisme atau coret-coret. Larangan membawa bunga Edelwis dan membawa belerang ke bawah serta menyosialisasikan larangan naik di atas jam 10 siang karena pada saat tersebut uap belerang cukup pekat," jelasnya.

Bahkan ia pernah tinggal selama 10 hari berturut-turut di Paltuding dan naik ke puncak Ijen setiap hari untuk memunguti sampah yang ditinggalkan oleh pendaki. Kecintaannya kepada alam dia lakoni sejak masih duduk di SMA.

Perempuan lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Yogyakarta mengaku sudah menaklukkan 18 gunung yang ada di Indonesia.

"Gunung Kerinci, Dempo, Singgalang, Merapi Padang, Sendoro, Sumbing, Argopuro bahkan Gunung Raung sudah pernah saya daki. Bahkan dapat jodoh pun dari kegiatan mendaki gunung," jelasnya sambil tersenyum.

Ia berharap, ketiga anaknya, Sahaja Nektar Martadi (9), Arroyyan Bentang Martadi (5) dan Arkan Semesta Martadi (3 bulan) bukan hanya sekadar mengenal dan mencintai lingkungan, namun juga menjaganya.

"Anak pertama saya usia 2 tahun sudah saya ajak arung jeram di Sungi Elo Magelang. Sedangkan anak kedua saat masih hamil sering saya ajak outbond," tambahnya.

Ia mengaku bersyukur dibesarkan dan dididik di lingkungan pecinta alam sehingga bisa memberikan pengalaman kepada anak-anaknya.

"Saya besar dilingkungan Pecinta Alam Flora Fauna SMA 2 Bondowoso dan Mapala UMY. Mereka yang membentuk saya seperti ini, dan semangat mencintai lingkungan harus ditularkan kepada anak-anak saya," katanya.

Pengalamannya mendaki Gunung Ijen sambil membawa anak bisa menginspirasi perempuan lainnya. Namun demikian, kata Nety, tetap harus memperhatikan keselamatan anak.

"Jangan konyol mengajak anak mendaki gunung jika safety-nya belum terjamin termasuk pengetahuan tentang karakteristik gunung. Ini yang harus diperhatikan jika ingin membawa anak mendaki gunung," pungkasnya.