Veteran, Sang Pejuang Kemerdekaan

Nasib Para Veteran Indonesia Yang Memprihatinkan
PEJUANG: Meskipun berjasa terhadap negaranya, tak sedikit veteran perang yang hidup kesusahan di masa tuanya.

InfoBondowoso.NET - Tak ada yang menyangkal veteran perang terutama angkatan tahun 1950-an sangat berjasa bagi Bangsa Indonesia. Namun, setelah 69 tahun merdeka, ternyata banyak dari mereka yang bernasib kurang beruntung bahkan cukup mengenaskan.

Menurut Undang-Undang no. 7 tahun 1967 tentang veteran RI adalah para pejuang yang berperang membela tanah air dengan melalui peperangan melawan musuh negara lain. Gelar kehormatan veteran bukanlah gelar main-main. Tetapi penghargaan yang luhur dari negara dan bangsa sebagai wujud dari penghormatan bangsa terhadap ketulusan pengabdian dan kerelaan berkorban demi bangsa dan negara tercinta ini.

Sehingga memiliki nilai yang tinggi dan dapat dijadikan norma keteladanan dalam upaya pembinaan generasi bangsa. Veteran sendiri terdiri dari veteran pejuang dan pembela yang kini masih hidup aktif di LVRI. Veteran Pejuang veteran yang ikut serta secara aktif berjuang dan bertempur dalam perang merebut Kemerdekaan mulai 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949 dengan masa bakti minimal 6 bulan.

Sedangkan veteran pembela adalah veteran yang ikut serta secara aktif berjuang dan bertempur dalam operasi-operasi militer mempertahankan sejumlah wilayah NKRI melawan tentara negara asing. Yakni veteran yang pernah aktif minimal tiga bulan dalam operasi militer Trikora di Papua Barat (19 Desember 1961-Mei 1963), juga Operasi Militer Dwikora di Kalimantan Utara (Mei 1964-Agustus 1966) Serta Operasi Militer Timor-Timur (Mei1975-Agustus 1976).

Berdasarkan data Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas cabang Jember tercatat saat ini jumlah veteran perang di Jember mencapai 525 veteran. "Untuk veteran pejuang ada sekitar 200-an, sedangkan pembela ada sekitar 225 veteran," tutur Sumarno, 48, wakil ketua LVRI Jember. Jumlah veteran ini rencananya akan kembali bertambah dengan ditetapkannya UU No. 15Tahun 2012 yang sudah disahkan oleh Pemerintah Indonesia.

"Yakni veteran perdamaian yaitu tentara yang pernah mendapatkan tugas PBB sebagai pasukan penjaga perdamaian di daerah konflik di luar negeri," jelas mantan Dandim dan Secaba Jember ini. Namun, untuk UU baru itu memang belum dilaksanakan karena peraturan pemerintah belum ada. Meskipun memiliki jasa yang tidak sedikit bagi Bangsa Indonesia, namun ternyata pemerintah Indonesia masih menutup sebelah mata dalam memperhatikan nasib veteran.

Bahkan, bisa dikatakan cukup mengenaskan terutama veteran pembela. Dirinya mengakui, masih belum ada perhatian khusus untuk para veteran perang yang sudah mengabdikan seluruh jiwa, raga bahkan merelakan harta dan meninggalkan keluarga untuk tanah air bumi pertiwi tercinta ini. Meskipun terkadang mendapatkan undangan mengikuti upacara, namun penghargaan lain dirasa masih sangat minim, terutama masalah kesejahteraan veteran.

"Veteran pembela selain tentara hanya mendapatkan dana kehormatan sekitar Rp 250 ribu perbulan," jelasnya. Dana tersebut tentu tidak akan cukup dibandingkan dengan kebutuhan hidup saat ini yang cukup tinggi. Dana kehormatan ini melekat pada diri veteran dan tidak dapat diwariskan kepada istri dan anak cucu jika meninggal. Kondisi yang lebih baik dialami oleh veteran pejuang.

Mereka mendapatkan dana tunjangan mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Bahkan, tunjangan ini masih bisa disalurkan kepada istri jika masih hidup. Namun, rata-rata veteran perang pejuang ini sudah tua-tua sehingga kurang produktif. Tentu saja, kondisi ini membuat mereka selalu kekurangan untuk hidup sehari-hari. Bahkan, diakui Sumarno, tidak sedikit veteran yang kondisinya bisa dikatakan di bawah garis kemiskinan. Usianya yang sudah tua juga membuat mereka hanya hidup sederhana saat ini.

Beberapa tahun yang lalu sebenarnya sudah ada tambahan tunjangan griya pepiling dari pemerintah. Namun, program itu berhenti setelah dua tahun berjalan. "Padahal nilainya lumayan," jelasnya. Bukan hanya pemerintah pusat, Pemkab Jember juga dirasa masih minim memberikan perhatian kepada LVRI. Bahkan tahun lalu pihak LVRI terpaksa harus merelakan dana hibah dari Pemkab Jember.

"Mengajukannya telat, tapi tahun ini mengajukan lagi," jelas Sumarno. Ke depan, pihaknya sangat mengharapkan perhatian lebih kepada para veteran perang itu. Karena mereka sudah memberikan semua kepada bangsa Indonesia.


Jahariiyah. satu-satunya veteran perempuan di Bondowoso yang tersisa.
Jahariyah. satu-satunya veteran perempuan di Bondowoso yang tersisa. Semasa perjuangan dia sering menyembunyikan para pejuang RI di rumahnya.

Soroti Lunturnya Karakter Bangsa

Lunturnya karakter bangsa dan semangat nasionalisme masyarakat membuat prihatin para veteran perang di Bondowoso. Meski setiap tahunnya, hari Kemerdekaan RI yang setiap 17 Agustus selalu dirayakan baik dengan upacara bendera dan berbagai lomba-lomba.

Namun HM. Mujahid, 64, ketua Legiun Veteran Bondowoso melihat semangat kegotong-royongan masyarakat mulai luntur. "Saya tidak ingin melihat kondisi ini semakin parah," katanya usai mengikuti upacara bendera HUT Kemerdekaan RI ke-69 di Alun-Alun Bondowoso, Minggu (17/8).

Mujahid yang memimpin 316 veteran itu, ingin menularkan kembali semangat juang para veteran saat merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. "Saya ingin anak-anak muda dan masyarakat tetap memiliki nilai-nilai luhur dan nasionalisme yang tinggi untuk menjaga bangsa dan negara," katanya.

Dia tak ingin di negeri ini ada warga atau masyarakat pemalas. "Semua warga wajib berjuang untuk memajukan bangsa dengan keahlian masing-masing," ujarnya. Namun yang terjadi saat ini, dengan adanya perubahan politik dengan mengedepankan uang dan harta menjadikan warga sebagai orang yang suka meminta sogokan. "Coba kalau menjelang pemilu, para caleg menebarkan uang ke masyarakat. Akibatnya, warga menjadi ketagihan dengan berbagai pemberian itu," katanya.

Bahkan untuk melakukan kerja bakti, kata Mujahid , ada yang meminta uang. "Jadinya semua diukur dengan uang, ini membuat saya miris. Karena, semangat kegotong-royongan mulai luntur," ujarnya. Oleh sebab itu, dia meminta para elite politik untuk tidak menjadikan jabatan atau kedudukan dan uang sebagai tujuan hidup. "Karena tujuan hidup kita itu beribadah dan menyejahterakan warga," katanya.

Pelaksanaan upacara derik-detik kemerdekaan Indonesia di Alun-alun Bondowoso kemarin berlangsung khidmat. Upacara lebih spesial dengan hadirnya belasan mantan pejuang yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bondowoso.

Dalam barisan LVRI itu, tampak salah satunya adalah Jahariyah. Perempuan renta ini tak lagi ingat tanggal lahirnya. Tapi dalam hitungannya, usianya kini berkisar 88 tahun. Jahariyah adalah satu-satunya veteran perempuan Bondowoso yang tersisa. Dia pun menjabat ketua veteran perempuan di LVRI Bondowoso.

Dalam kisahnya, ibu dari empat anak ini memiliki banyak pengalaman bersejarah dalam perjuangan Indonesia. Salah satunya ketika dia dikirim ke Surabaya untuk bergabung dengan Laskar Bung Tomo. Jahariyah berperan untuk mempersiapkan makanan bagi para pejuang di dapur umum.

Keterlibatan Jahariyah dalam perjuangan bangsa Indonesia tak lepas karena suaminya saat itu yaitu Muhammad Jakfar adalah Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bondowoso. Tak pelak, aktivitas suaminya bertempur juga membuat Jahariyah harus turun tangan untuk membantu. "Tugas saya paling banyak ya di dapur menyiapkan makanan," kenangnya.

Lebih dari itu, Jahariyah yang kini tinggal di Jalan Manggis RT 16, kecamatan Kota ini juga sering membantu menyembunyikan para pejuang ketika ada pasukan Belanda. Waktu itu, rumah tempat tinggal bersama suaminya di kawasan Bunder, jalan Bondowoso - Jember memang menjadi tempat berkumpulnya para pejuang.

Saat ada pasukan Belanda itulah, Jahariyah kemudian menyembunyikan para pejuang itu di tempat rahasia. "Biasanya mereka (para pejuang) saya sembunyikan di lumbung," ujar perempuan kelahiran Tamanan ini. Jahariyah mengaku, pengalaman itu menjadi sangat berharga baginya.

Di usianya yang sudah senja kini, tak banyak aktivitas yang dilakukan Jahariyah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya. Namun Jahariyah selalu aktif datang ketika ada pertemuan-pertemuan yang melibatkan para veteran. "Setiap 10 November biasanya saya juga diundang ke Pemkab," ungkapnya.

Jahariyah memiliki empat orang anak. Selain itu, sejumlah cucunya juga kini menjadi polisi. Jahariyah bangga dengan mereka. Dia pun berharap para penerusnya itu bisa berbakti terhadap bangsa dan negara. "Anak-anak muda juga harus mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik mungkin," pungkasnya.


- Jawa Pos, 18/08/14 -