Persiapan Pementasan Drama Kolosal Menyambut Hari Jadi Bondowoso

Persiapan Pementasan Drama Kolosal Menyambut Hari Jadi Bondowoso
Teater GAS (Grup Apresiasi Seni) Bondowoso / facebook GAS Bondowoso, Haris Fallin

BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Banyak hal menarik yang bisa dinikmati masyarakat pada peringatan Hari Jadi Bondowoso (Harjabo) ke-195 pada akhir bulan ini. Salah satunya adalah drama kolosal 'Babat Bondowoso' dan 'Bondowoso Jadoel’. Berbagai persiapan dari para seniman teater terus dilakukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, peringatan Harjabo yang jatuh pada setiap 17 Agustus selalu diwarnai dengan pementasan drama kolosal. Penunjukan itu menjadi salah satu agenda yang paling banyak digemari oleh masyarakat. Berbagai tema diangkat dalam penunjukan yang melibatkan lebih dari seratus orang itu. Salah satu yang sudah pernah diangkat adalah tragedi gerbong maut serta kisah perjuangan masyarakat Bondowoso.

Pada tahun ini, pementasan drama kolosal yang dimotori oleh para seniman dari Gabungan Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso itu akan mengangkat dua kisah utama. Yang pertama adalah "Babat Bondowoso; Episode Langit Merah di Tanah Sentong" yang akan ditampilkan pada 22 Agustus mendatang. Satu lagi adalah "Bondowoso Jadoel" yang akan dipertunjukkan pada 24 Agustus.

Sabtu sore kemarin, puluhan pemain taeter dari berbagai kalangan usia tampak berkumpul serius di halaman kantor Perpustakaan Bondowoso.

Mereka sedang berlatih peran untuk pertunjukan Babat Bondowoso. Secara singkat, drama kolosal Babat Bondowoso ini akan menceritakan terkait dengan pemberontakan Aryo Gledak terhadap penguasa pemerintahan Besuki. Namun usaha pemberontakan itu berhasil ditumpas oleh pasukan Raden Bagoes Asra (Ki Ronggo) melalui pertempuran sengit di Desa Sentong.

"Ada 175 pemain yang akan terlibat dalam pertunjukan drama kolosal Babat Bondowoso nanti," ujar Junaidi, ketua GAS usai melatih kemarin. Uniknya, para pemain dalam drama kolosal ini adalah para siswa dari berbagai teater sekolah di Bondowoso yang diasuh oleh GAS.

Mereka di antaranya dari teater Arwah MAN Bondowoso, Teater Rayap SMA Tenggarang, Teater Jernih SMAN 2 Bondo woso, Teater Arum SMAN 1 Bondowoso, Teater Arta' SMAN Tamanan, Teater Pinus SDN 1 Curahpoh serta Teater Kancil SDN 3 Dabasah.

Selain itu ada juga dari teater Kapas SMP Assyuhada 45, Teater Landuk SMKPP Tegalampel, Teater Miror SMK 1 Bondowoso, Komunitas Parkur, SMA Ma'arif Poncogati dan Empat Tahun Band.

Melibatkan ratusan pemain dengan beragam usia dari berbagai sekolah menjadi tantangan tersendiri dalam mempersiapkan drama kolosal ini. "Karena di bulan Agustus, banyak agenda sekolah yang harus mereka lakukan sehingga ketika latihan banyak di antara mereka yang harus terlambat," ungkap Junaidi.

Selain itu, mendesain pertunjukan dengan orang banyak juga memiliki tantangan dalam pengaturan. Apalagi usia mereka beragama mulai dari yang duduk di bangku SD sampai SMP. Tak pelak, para awak GAS yang dikomandani Junaidi harus bekerja ekstra keras untuk memberikan latihan.

Tantangan lainnya adalah waktu yang cukup mepet untuk mempersiapkan pertnjukan kali ini. "Kita hanya memiliki waktu sepuluh pertemuan untuk mempersiapkan dua pertunjukan sekaligus, yaitu Babat Bondowoso dan Bondowoso Jadoel," ungkapnya. Untuk itulah, terkait dengan peran-peran penting, mereka memiliki agenda latihan tersendiri, bahkan dilakukan pada malam hari.

Kendati begitu, Junaidi menjanjikan pertunjukan kali ini memiliki keunikan dan kelebihan terendiri dibanding dengan pertnujukan pada tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya adalah pertunjukan akan dilakukan pada malam hari sehingga permainan lampu akan menambah dramatis suasana. Apalagi drama kolosal akan dilakukan di alun-alun sehingga lebih luas.

Yang tak kalah menarik adalah tampilnya dari tokoh-tokoh Bondowoso dalam pertunjukan nantinya. Salah satu yang direncakan mengisi drama adalah Kapolres Bondowoso AKBP Sabilul Alif. Dia diagendakan memerankan tokoh Ki Ronggo saat menumpas pemberontakan Aryo Gledak di desa Sentong.

Pertunjukkan bermuara pada penyerahan tongkat sebagai bentuk estafet kepemimpinan dari Ki Ronggo yang diperankan Kapolres kepada Bupati Amin Said Husni. Selanjutnya, Bupati akan membacakan fatwa dengan didampingi oleh sejumlah keluarga Ki Ronggo yang masih ada.

Yang tak kalah menarik untuk ditunggu adalah pertunjukan 'Bondowoso Jadoel' yang akan dilakukan di jalan Imam Bonjol dengan berlatar belakang stasiun Bondowoso peninggalan Belanda. Di pertunjukan kali ini, akan diceritakan bagaimana sejarah Bondowoso dari masa ke masa. Dimulai sejak jaman Megalitikum hingga masa penjajahan Belanda.


- Jawa Pos, 11/08/14 -