Babad Tanah Bondowoso, Kapolres Perankan Mas Ngabehi Astrotruno
![]() |
| Kapolres Bondowoso, AKBP M. Sabilul Alif, S.H saat memerankan tokoh Raden Bagus Assrah atau Mas Ngabehi Astrotruno dalam pentas drama kolosal Babad Bondowoso Episode “Langit Merah di Tanah Sentong” |
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Kapolres Bondowoso, AKBP M. Sabilul Alif, S.H ternyata memiliki bakat seni yang tinggi. Hal itu terbukti saat didapuk memerankan tokoh Raden Bagus Assrah atau Mas Ngabehi Astrotruno, tokoh utama dalam pentas drama kolosal dengan judul Babad Bondowoso Episode “Langit Merah di Tanah Sentong”.
“Sangat berkesan bisa memerankan lakon itu. Walaupun senpat grogi, tapi ternyata asyik juga seni peran,” kata AKBP M. Sabilul Alif, S.H saat berbincang dengan halopolisi.com usai pementasan, Sabtu (23/8/2014).
Pemenntasan drama kolosal ini digelar di Alun-Alun Bondowoso, Jumat (22/8/2014) malam sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Bondowoso ke-195.
Pementasan drama kolosal itu dilihat secara langsung oleh Bupati Bondowoso beserta Ibu, Wakil Bupati beserta Ibu, Pimpinan Forpimda Kabupaten Bondowoso beserta Ibu, para undangan, dan masyarakat umum.
Masyarakt Bondowoso sangat antusias dalam melihat tontonan drama kolosal yang menceritakan kisah babat alas Bondowoso.
Diceritakan dalam pentas drama kolosal tersebut asal mula kota Bondowoso dimana semasa pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki, daerah Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar, utamanya dari Pulau Madura, yang kemudian menetap di Besuki.
Suasana Besuki yang semakin ramai dan semakin padat penduduknya membuat perlunya dilakukan pengembangan wilayah. Untuk itu dibuka wilayah baru ke arah tenggara dengan membuka hutan, kemudian menjadikannya daerah hunian dan bisa didirikan kota.
Ketika rencana itu dibahas di tingkat kabupaten, Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas tersebut. Alasannya, ia telah mampu melaksanakan tugas-tugas kenegaraan yang diberikan padanya sehingga sekarang perlu diberikan tugas- tugas baru yang lebih berat.
Usul itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas itu. Sebagai seorang ayah angkat, Kiai Ronggo Suroadikusumo perlu terlebih dahulu menikahkan Mas Astrotruno dengan salah seorang putri dari Bupati Probolinggo Joyolelono, yaitu Roro Sadiyah.
Sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya, mertua Mas Astrotruno menghadiahinya seekor kerbau putih (bule) yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah). Kerbau putih itu untuk dijadkan teman perjalanan sekaligus penuntun mencari daerah-daerah yang subur. Kerbau itu bernama “Melati”.
Karena hutan yang ditebangnya sangat lebat, maka Mas Astrotruno dibantu oleh empat orang asisten yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.
Rombongan lalu menerobos ke timur dan Sampailah mereka di Dusun Wringin, melewati gerbang yang disebut “Lawang Saketeng”.
Kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan Sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat itu kemudian dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak kurang leih 400 meter di sebelah utara Alun-alun.
Pekerjaan membuka jalan itu berlangsung selama lima tahun (1789-1794). Untuk memantapkan wilayah kekuasaan baru di pedalaman, setelah kondisinya mapan, Mas Astrotruno pada 1808 diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah Demang Blindungan.
Pada 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronggo I.
Peristiwa besar pengukuhan Kiai Ronggo Kertonegoro sebagai Bupati Adat dilaksanakan dalam suatu upacara adat yang khidmat secara ritual berupa penyerahan tombak Tunggul Wulung oleh Raden Ario Adipati Prawiroadingrat kepada Mas Ngabehi Kertonegoro atau Ronggo I.
Acara ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 Hijriah atau 17 Agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1819-1830.
Dalam pementasan drama kolosal ini Polres Bondowoso mengerahkan anggota Dalmas sebanyak 1 Kompi dan Staf gabungan sebanyak 2 pleton untuk pengamanan.
Pementasan drama kolosal itu dilihat secara langsung oleh Bupati Bondowoso beserta Ibu, Wakil Bupati beserta Ibu, Pimpinan Forpimda Kabupaten Bondowoso beserta Ibu, para undangan, dan masyarakat umum.
Masyarakt Bondowoso sangat antusias dalam melihat tontonan drama kolosal yang menceritakan kisah babat alas Bondowoso.
Suasana Besuki yang semakin ramai dan semakin padat penduduknya membuat perlunya dilakukan pengembangan wilayah. Untuk itu dibuka wilayah baru ke arah tenggara dengan membuka hutan, kemudian menjadikannya daerah hunian dan bisa didirikan kota.
Ketika rencana itu dibahas di tingkat kabupaten, Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas tersebut. Alasannya, ia telah mampu melaksanakan tugas-tugas kenegaraan yang diberikan padanya sehingga sekarang perlu diberikan tugas- tugas baru yang lebih berat.
Usul itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas itu. Sebagai seorang ayah angkat, Kiai Ronggo Suroadikusumo perlu terlebih dahulu menikahkan Mas Astrotruno dengan salah seorang putri dari Bupati Probolinggo Joyolelono, yaitu Roro Sadiyah.
Sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya, mertua Mas Astrotruno menghadiahinya seekor kerbau putih (bule) yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah). Kerbau putih itu untuk dijadkan teman perjalanan sekaligus penuntun mencari daerah-daerah yang subur. Kerbau itu bernama “Melati”.
Karena hutan yang ditebangnya sangat lebat, maka Mas Astrotruno dibantu oleh empat orang asisten yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.
Dengan peralatan dan perbekalan secukupnya, Mas Astrotruno beserta rombongan berangkat melaksanakan tugasnya menuju ke arah selatan, menerobos wilayah pegu nungan sekitar Arak-arak (jalan lintas itu sekarang tidak digunakan) di kemudian hari jalan itu sering disebut orang dengan sebutan “Jalan Nyi Melas”.
Rombongan lalu menerobos ke timur dan Sampailah mereka di Dusun Wringin, melewati gerbang yang disebut “Lawang Saketeng”.
Kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan Sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat itu kemudian dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak kurang leih 400 meter di sebelah utara Alun-alun.
Pekerjaan membuka jalan itu berlangsung selama lima tahun (1789-1794). Untuk memantapkan wilayah kekuasaan baru di pedalaman, setelah kondisinya mapan, Mas Astrotruno pada 1808 diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah Demang Blindungan.
Pada 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronggo I.
Peristiwa besar pengukuhan Kiai Ronggo Kertonegoro sebagai Bupati Adat dilaksanakan dalam suatu upacara adat yang khidmat secara ritual berupa penyerahan tombak Tunggul Wulung oleh Raden Ario Adipati Prawiroadingrat kepada Mas Ngabehi Kertonegoro atau Ronggo I.
Acara ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 Hijriah atau 17 Agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1819-1830.
Dalam pementasan drama kolosal ini Polres Bondowoso mengerahkan anggota Dalmas sebanyak 1 Kompi dan Staf gabungan sebanyak 2 pleton untuk pengamanan.

