Demo Mahasiswa Bondowoso Terkait Pemindahan Situs Nangkaan Kisruh
BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Unjuk rasa yang dilakukan para mahasiswa Bondowoso yang menentang perpindahan situs purbakala di halaman Kantor Pemkab Bondowoso kemarin berlangsung rusuh, (13/2). Pemicu keributan antara para mahasiswa versus polisi karena salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam HMI cabang Jember komisariat Bondowoso itu memukul kepala seorang anggota polisi menggunakan helm. Polisi pun mengejar pelaku pemukulan. Tak ayal, aksi demo yang awalnya tertib berubah menjadi keributan.
Sebaliknya, untuk mencegah meluasnya keributan, polisi terus mengamankan para pengunjuk rasa. Polisi mengejar para mahasiswa yang terlihat menentang polisi. Bahkan, sempat terjadi kejar-kejaran antara polisi dengan mahasiswa. ”Awalnya para pendemo ini diperbolehkan masuk menemui pejabat yang ada di kantor pemkab. Namun, mereka tidak mau meletakkan bambu, atau kayu yang digunakan sebagai pengikat bendera. Mereka ngotot tetap membawa bambu atau kayu ke dalam kantor Pemkab,” ungkap salah seorang polisi kemarin.
Tentu saja, polisi tidak mau mengambil risiko jika pendemo membawa kayu atau bambu saat berdialog dengan pejabat di Pemkab. Lalu, terjadilah adu argumentasi antara pengunjuk rasa dengan polisi. Saat berlangsung dialog antara polisi dengan mahasiswa itulah, tiba-tiba ada seorang polisi dalam kerumunan mahasiswa itu dipukul menggunakan helm.
Tuntutan para mahasiswa itu di antaranya, meminta kejelasan perpindahan situs, meminta pemkab mencabut IMB perumahan di atas lahan sekitar situs, meminta Bupati untuk mencopot Bambang Sukwanto, kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan, dan meminta Bupati untuk bertanggung jawab terhadap persoalan itu. Namun begitu, perpindahan situs purbakala di Nangkaan yang saat ini dijadikan kawasan perumahan, sudah atas izin dari Museum Trowulan.
Seusai demo yang disertai baku hantam di halaman Pemkab, para mahasiswa langsung bergerak ke gedung DPRD. Mereka yang merasa menjadi korban hendak wadul soal aksi pemukulan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Sesampainya di gedung DPRD, mereka langsung memasuki salah satu ruangan. Mereka telah ditunggu oleh sejumlah unsur pimpinan di Komisi III, di antaranya Tohari dan Andi Hermanto. Namun sebelum sesi dialog soal cagar budaya dibuka, para mahasiswa langsung wadul soal aksi pemukulan polisi.
Bahkan para mahasiswa meminta agar sejumlah polisi berseragam yang juga ikut masuk ke ruang tersebut untuk keluar ruangan. Para mahasiswa juga meminta kepada anggota dewan agar ruangan steril dari polisi. Karena mereka menganggap polisi telah bertindak represif terhadap kebebasan menyampaikan aspirasi. Kalaupun hendak tetap berada di dalam, maka cukup yang tidak berseragam.
Permintaan para mahasiswa tersebut ternyata tidak digubris oleh anggota polisi yang juga ikut menyesaki ruangan tersebut. Mereka tetap berada di ruangan meski sudah diminta untuk keluar. “Kalau bapak-bapak polisi tidak keluar ruangan, maka kami yang akan keluar. Jadi penyampaian aspirasi ini tidak jadi. Jadi tolong bapak dewan yang terhormat, agar polisi dipersilakan untuk keluar ruangan,” ujar Usman, salah seorang koordinator aksi kemarin. Atas pemukulan yang dilakukan, para mahasiswa ini pun berencana melaporkan ke Propam.
Sayangnya, permintaan mahasiswa tersebut juga tidak digubris oleh anggota dewan yang menerima mereka. Bahkan para anggota komisi III tersebut meminta agar dialog tetap dilakukan dan tetap dengan pantauan pihak kepolisian. Karena permintaannya dicueki, para mahasiswa ini akhirnya membubarkan diri tanpa sedikitpun menyampaikan aspirasi.
Andi Hermanto, anggota komisi III yang menerima mahasiswa menjelaskan, bahwa penyampaian aspirasi bisa tetap dilakukan meski ada pihak kepolisian. “Jadi pihak kepolisian kan juga sudah punya protap untuk mengamankan aksi,” ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Tohari, wakil ketua komisi III. Menurutnya, pihaknya tidak menghalang-halangi para mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Namun ketika polisi harus keluar ruangan itu tidak bisa.
Jawa Pos (14/02/14)