Bupati Bondowoso Orasi Ilmiah di Depan Wisudawan Unmuh Malang
MALANG, InfoBondowoso.NET - Bupati Bondowoso Amin Said Husni mendapatkan tempat istimewa di kalangan Civitas Akademika Universitas Muhamadiyah Malang. Sabtu kemarin (22/2), Bupati Amin mendapatkan penghormatan untuk memberikan sambutan dan orasi ilmiah pada acara ‘Sidang Senat Terbuka Universitas Muhamadiyah Malang Wisuda ke 71 Periode I Tahun 2014’ Program Diploma, Sarjana dan Pascasarjana di Unmuh Malang.
Dalam sambutannya, Amin mengucapkan selamat kepada segenap civitas akademika Unmuh Malang yang telah menghasilkan sarjana-sarjana baru.”Ini jelas akan menjadi tambahan modal bagi bangsa Indonesia dalam membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik,” katanya. Bupati Amin berharap kepada Unmuh Malang untuk dapat terus meningkatkan kualitas lulusan yang dihasilkan. Serta, mengukuhkan peran utamanya dalam mengemban amanah Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu mencetak manusia-manusia Indonesia yang berilmu, berintegritas tinggi, dan berwawasan luas. “Serta mampu melakukan penelitian yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat Indonesia. Serta melakukan pengabdian kepada masyarakat guna meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraannya,” katanya.
Selanjutnya, Bupati Amin dalam orasinya mengatakan dia ingin berbagi pemikiran, pengetahuan, sekaligus pengalaman, dalam upaya mewujudkan impian sebuah perubahan dalam pembangunan. “Pembangunan daerah pada dasarnya untuk mewujudkan pelayanan umum, daya saing daerah dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,” katanya.
Tujuan itu, selaras dengan tujuan pembangunan ekonomi yang dikemukakan Todaro (2003) dalam Economic Development yaitu bahwa tujuan pembangunan ekonomi untuk menciptakan pertumbuhan, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan (disparity), dan pengangguran. Pemerintah Daerah harus memiliki peran yang besar dalam mengubah daerahnya menjadi lebih maju ketika peran masyarakat belum maksimal sehingga masyarakat dapat termotivasi, karena pada dasarnya pembangunan daerah dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholder yang lainnya. Seperti dikemukakan Ibnu Khaldun dalam “Model Dinamika”, yaitu bahwa negara harus melakukan pembangunan melalui sumber anggaran yang dimiliki dengan
membantu masyarakat menjalankan usaha secara efisien dan mencegah masyarakat melakukan tindakan yang tidak adil secara berlebihan untuk kesejahteraan rakyatnya.
Bupati Amin menegaskan, Bondowoso merupakan daerah yang berhawa segar dan sejuk. Oleh karena itu, pada masa Belanda, Bondowoso menjadi daerah maju dan menjadi wilayah perkebunan dan ibu kota Karesidenan Besuki. “Namun, seiring dengan berkembangnya perekonomian dan industrialisasi pada sisi utara dan selatan Jawa, maka kemajuan Bondowoso tertinggal dari Kabupaten sekitarnya di eks Karesidenan Besuki. Terlebih lagi Bondowoso terkendala oleh aksesibiltas antar wilayah karena sebagaimana dinyatakan oleh Miraza (2006) dan Kamaluddin (2003) bahwa transportasi merupakan masalah pokok pembangunan wilayah yang berfungsi sebagai urat nadi kehidupan dan perkembangan ekonomi, sosial, politik, dan mobilitas penduduk serta mengikuti perkembangan yang terjadi dalam berbagai bidang dan sektor.
Sehingga menjadikan Bondowoso menjadi wilayah tertinggal dan menjadi Kota Pensiun, yang berakibat juga pada ketertinggalan di segala bidang, seperti pada indikator Indeks Pembangunan Manusia, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan disparitas wilayah. “Berlatar belakang demikian inilah, yang menjadi mimpi saya untuk mengubah Bondowoso dari kota pensiun menuju kota kampiun. Tidak mudah memang, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil, karena saya selalu berkeyakinan Bahwa ketika kita memiliki mimpi, keinginan ataupun sebuah cita-cita, sesungguhnya Tuhan sudah menyiapkan sebuah jalan untuk kita mewujudkannya, tergantung kita berani atau tidak meniti jalan tersebut,” katanya. Seperti kata-kata Bijak Shalahuddin al Ayyubi bahwa ketika kita meminta untuk kemakmuran, maka Allah tidak memberi kemakmuran langsung, tetapi memberi tenaga untuk bekerja.
Oleh karena itu dengan segala kerja keras dengan memaksimalkan potensi yang ada, maka Bondowoso menjadi Kampiun pastilah akan terwujud. “Sejalan dengan teori Maslow, mulai dari kebutuhan dasar untuk mempertahankan hidup sampai mengaktualisasikan diri, maka pada awal kepemimpinan di tahun 2009, saya mengangkat Visi “mewujudkan masyarakat Bondowoso yang beriman, berdaya, dan bermartabat,” katanya. Visi tersebut terus menjadi pegangan pada periode kedua kepemimpinan Amin Said Husni.
Visi ini mengandung maksud bahwa pada landasan awal, keimanan dan pelaksanaan nilai-nilai agama menjadi landasan pelaksanaan pembangunan yang selanjutnya masyarakat akan dimotivasi untuk bekerja sehingga dapat berdaya dan mempertahankan hidup dan pada tahapan berikutnya masyarakat Bondowoso akan lebih memiliki martabat, percaya diri bersaing dengan masyarakat di wilayah yang lainnya. Implementasi visi keimanan dituangkan dalam penguatan guru-guru ngaji dan lembaga-lembaga keagamaan untuk ikut mendorong masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan daerah melalui forum-forum pengajian. Disamping itu forum tersebut juga digunakan untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan itu sendiri, termasuk juga penguatan kurikulum keagamaan pada lembaga pendidikan dan penyelenggaraan BOSDA Madrasah Diniyah.
Implementasi berdaya dilaksanakan diberbagai bidang pembangunan sesuai dengan prioritas, mulai kebutuhan pendidikan dan kesehatan, bidangbidang yang bersentuhan langsung dengan perekonomian dan pemerintahan, serta bidang pendukung lainnya seperti infrastruktur. Pada bidang pendidikan, antara lain dilakukan pengalokasian APBD mencapai diatas 40%, pengembangan PAUD, rehabilitasi sekolah negeri dan swasta, pemberian bantuan pendiidkan bagi siswa miskin, beasiswa bagi mahasiswa berprestasi di PTN, dan penguatan SMK negeri dan swasta, serta fasilitasi pengembangan perguruan tinggi.
Untuk Kesehatan dilakukan layanan kesehatan gratis di kelas III puskesmas, Jamkesda, dan partisipasi masyarakat di bidang kesehatan melalui Pos pemberdayaan (Posdaya) di beberapa pedukuhan. Pada bidang yang bersentuhan dengan ekonomi dilakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti - insentif sapi bunting, subsidi Inseminasi Buatan untuk mempertahankan dan meningkatkan populasi sapi Bondowoso dan memperkuat basis ekonomi keluarga. - pengembangan kopi rakyat sebagai produk unggulan kabupaten bekerja sama dengan stakeholder perkopian di Jawa Timur (Kelompok tani di Agropolitan Sumber Wringin, BI Jember, Puslitkoka Jember, Perhutani, Asosiasi Petani Kopi Indonasia, PT. Indokom Citra Persada, Sidoarjo, dan Bank Jatim sehingga mampu mengekspor ke Eropa dengan Brand Java Coffee.
Sebagai bentuk pemasyarakatan kopi Bondowoso dilakukan pemecahan Rekor MURI minum kopi.- Untuk meningkatkan kemampuan bertani dilakukan Pelatihan Anak Tani Remaja (PATRA), penyediaan benih hingga pemasaran produk. Sedangkan untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman hortikultura, dilakukan pengembangan biofarmaka, pengembangan kawasan sayuran organik bawang merah, Pengembangan kawasan sayuran organik Kentang, Sekolah Lapang GAP (Good Agricultural Practices) sayuran organik bawang merah, kentang, dan biofarmaka.-Kabupaten Bondowoso juga memiliki Program Pertanian Organik (Botanik).
Salah satu yang membanggakan juga bagi saya adalah dapat bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang khususnya Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang di bidang pertanian organik. Sehingga kabupaten Bondowoso berhasil mengembangkan padi organik dengan produk beras organik dan saat ini di wilayah tersebut dijadikan desa wisata organik.
Pemerintah Bondowoso juga mengembangkan destinasi wisata lainnya seperti arung jeram Bosamba, agro wisata Ijen, dan beberapa destinasi lainnya. Untuk penanggulangan kemiskinan Pemerintah Kabupaten Bondowoso melakukan program pemberantasan kemiskinan yang didanai APBD seperti Plesterisasi Rumah Tidak Layak Huni, Pundi Gakin, dan Garda Mas.
Upaya-upaya tersebut didukung dengan upaya penyediaan infrastruktur daerah seperti jalan, jembatan, jaringan irigasi, air bersih dan listrik perdesaan. Pembangunan daerah selama periode tahun 2009 – 2013 menunjukan keberhasilan yang dapat mengangkat martabat Bondowoso di mata daerah-daerah yang lain, Indeks Pembangunan Manusia meningkat dari 61,26 pada tahun 2008 menjadi 64,08 pada tahun 2012, meskipun masih pada posisi 36 dari 38 kab/kota di Jawa Timur dengan capaian angka lama sekolah dari 5,2 tahun meningkat menjadi 5,68, capaian angka melek huruf dari 76,3 persen menjadi 80,72 persen dan capaian angka harapan hidup dari 62,61 tahun menjadi 63,79 tahun.
Bupati Amin juga menekankan untuk berani untuk memiliki mimpi, sekaligus memiliki keberanian untuk meraih mimpi itu meski dengan upaya yang tidak mudah. ‘’Sebab dari mimpi inilah kita memiliki arah untuk sebuah tujuan,’’ katanya.
Jawa Pos (24/02/14)