Genjot Produksi, Petani di Bondowoso Diguyur 10.000 Bibit Kopi

Sedikitnya 6.000 hektare tanaman kopi rakyat di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak produktif dengan hasil panen hanya berkisar 500-700 kilogam (kg) per hektare. Hal ini dikarenakan sebagian besar usia tanaman komoditas ini telah mencapai 20 tahun lebih.

Oleh karena itu, guna mendongkrak kembali produksi kopi di Jatim, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) Jember melakukan peremajaan tanaman kopi rakyat di kabupaten tersebut, melalui bantuan bibit komoditas tersebut sebanyak 10.000 batang.

Ketua Umum AEKI Irfan Anwar menyebutkan, potensi lahan kopi rakyat di dalam negeri cukup besar yakni sekitar 1,3 juta hektare milik 2 juta kepala keluarga.

Potensi tersebut, lanjutnya, dapat dioptimalkan guna mendongkrak volume ekspor kopi. Tetapi hasil panen kopi rakyat sejauh ini justru mengalami penurunan akibat banyak tanaman telah rusak dan tidak produktif.

Volume panen kopi rakyat rata-rata hanya 750 kg/hektare atau jauh lebih rendah dibandingkan kopi rakyat di Brazil yang mencapai 3 ton/hektare dan di Vietnam 2,2 ton/hektare.

“Kami bekerja sama dengan pelaku usaha lainnya terus mendorong peningkatan produktifitas kopi rakyat, agar hasil panennya bisa naik menjadi 1-1,5 ton/hektare. Petani perlu diberikan bantuan bibit unggul antara lain. petani di Kabupaten Bondowoso,” ujarnya di Surabaya, Jumat (29/11/ 2013).

Hal itu diungkapkan saat penyerahan 10.000 batang bibit kopi kepada para petani kopi asal Kabupaten Bondowoso, dengan memanfaatkan bibit produksi PPKKI Jember, Jawa Timur.

Menurut Irfan, bantuan 10.000 batang bibit kopi kepada petani Bondowoso itu merupakan bagian dari bantuan serupa yang ditujukan petani kopi di 22 kabupaten di 10 provinsi penghasil kopi di seluruh Indonesia.

Kabupaten Bondowoso diketahui merupakan salah satu sentra pertanaman kopi di Jawa Timur, yang menghasilkan kopi jenis Ijen Raung dengan cita rasa khas yang dikenal secara internasional dengan julukan Java Coffee.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bondowoso Suhardjo menyebutkan potensi lahan kopi rakyat di wilayah tersebut seluas 7.000 hektare, diantaranya 6.000 hektare tidak produktif dan membutuhkan penggantian bibit unggul.

“Usia tanaman kopi rakyat rata-rata 20 tahun lebih, itupun pemeliharaannya tidak intensif, sehingga hasil panennya hanya berkisar 0,5-0,7 ton/hektare. Kemampuan kami terbatas, maka menggandeng banyak pihak guna meningkatkan kualitas kopi rakyat,” ujarnya.

Dengan volume panen 0,5-0,7 ton/hektare, pembudidayaan kopi tidak dapat diandalkan untuk mendukung kebutuhan ekonomi keluarga, maka petani kopi di Bondowoso mengoptimalkan lahan dengan menanam sayur-mayur. Terlebih-lebih harga jual kopi rakyat di Bondowoso saat ini hanya Rp12.500/kg


Sumber