Film Dokumenter Kiki Febriyanti, Perempuan Muda asal Bondowoso, Berjudul 'Jangan Bilang Aku Gila!' Menang di Ukraina
JAKARTA, InfoBondowoso.NET - Disadari atau tidak, kini, semakin banyak prestasi sineas muda Indonesia dalam bidang film dokumenter yang mendapat penghargaan di tingkat global. Namun perlu diakui, di negeri sendiri, tak banyak yang menyoroti langkah-langkah sukses para sineas muda hingga bisa sampai ke panggung dunia.
Kali ini detikHOT sajikan artikel lengkap mengenai para sineas muda Indonesia, yang bermodalkan tekad mampu merampungkan proyek film dan memproyeksikannya hingga ke banyak negara.
***
Kiki Febriyanti, perempuan 27 tahun asal Bondowoso, Jawa Timur ini membawa kabar baik saat tiba di ibu kota.
Ia baru saja menghadiri sebuah festival film internasional, bertajuk STEPS di Ukraina pada Awal November 2013 lalu
Di kaki piala, namanya tertulis sebagai Best Director, kategori Film Dokumenter. Perempuan berpostur mungil ini, tanpa beban atau euforia bangga ketika menceritakan prestasi yang ia raih pada Oktober 2013 itu.
"Awalnya aku dapat info kalau di Ukraina ada festival film itu, ya aku coba kirim film aku. Kemudian aku mendapat surat elektronik pribadi yang menjelaskan kalau aku menjadi nominator," ujarnya kepada detikHOT (06/12/2013).
Saat itu, karena tema dari festivalnya mengangkat soal Hak Asasi Manusia dan juga Hak Asasi Hewan, Maka, Kiki memasukkan film dari proyek yang ia kerjakan tahun 2008, berjudul 'Jangan Bilang Aku Gila!'.
Film dengan durasi 18 menit ini menceritakan tentang dua pasien penyakit jiwa di tempat perawatan, yang merupakan pesantren di kampung asalnya Bondowoso, Jawa Timur.
Untuk menghadiri malam pengumuman pemenang dan mengikuti festival film yang memutarkan banyak karya film dari seluruh dunia itu, Kiki pun sempat memutar otak.
"Ketika menang, Duta Besar Indonesia untuk Ukraina ikut hadir dan memberikan pidatonya. Dia memberi dukungan dan membantu banget terutama soal birokrasinya," ujar Kiki.
Ia pun bercerita bahwa selama ini film dokumenternya yang telah diputar di beberapa negara. Sepengetahuannya, belum pernah ada orang pemerintahan yang menontonnya.
"Aku sebagai pembuat film hanya memberi tahu bahwa ada isu seperti ini. Harapannya orang bisa melihat mereka yang memiliki gangguan mental bisa tetap dianggap sebagai manusia," katanya.
"Ini bukan hanya tanggung jawab saya, ini juga tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah."
