B-Retic, Ajak Masyarakat Bondowoso Menyayangi Reptil
Bondowoso Reptil and Exotic Pet Club atau B-Retic, begitulah nama dari komunitas pecinta hewan melata dan mamalia ini.
Bagi sebagian masyarakat, hobi yang mereka geluti bisa dibilang ekstrim. Bagaimana tidak, ular mulai dari ukuran kecil sampai yang terbesar, menjadi layaknya teman akrab bagi mereka.
Sekilas, ular jenis phyton reticulatus, phyton mollurus dan phyton condro, terlihat ganas dan berbahaya. Namun, ditangan mereka hewan – hewan itu jinak dan layak dipelihara. Melalui komunitas inilah, mereka mencoba mengenalkan reptil kepada masyarakat, untuk meningkatkan kecintaan warga terhadap hewan ini dan tidak mengasingkannya.
Hampir setiap minggu pagi, mereka berkumpul di alun-alun kota untuk memamerkan hewan hewan tersebut. Tidak hanya ular, namun juga iguana, biawak, luwak, musang bahkan elang dan burung hantu.
Berawal dari kecintaannya terhadap ular, Agung Dharma (27) sang pemrakarsa mulai mengenalkan hewan peliaharaannya itu kepada teman temannya. Tak mudah untuk mengakrabkan hewan ini kepada manusia, namun akhirnya selang setahun kemudian, agung berhasil mengumpulkan orang – orang yang tertarik memelihara reptil.
“Maen ular udah sejak dulu, setelah kurang lebih setahun baru membentuk komunitas. Susah banget ngajak orang untuk cinta reptil. Memelihara hewan seperti ini juga gak sembarangan, gak hanya cukup dikasih makan saja. Kalau sama hewan itu harus dengan hati, biar bisa ngerawat dengan benar,” ujar Agung .
Di kota – kota besar, apresiasi dan kecintaan masyarakat terhadap reptil ternyata cukup tinggi. Bahkan ada jadwal rutin dimana seluruh pecinta reptile dari seluruh Indonesia berkumpul. Seperti beberapa waktu lalu, di MOG Malang, Jawa Timur. Tak hanya berkumpul, tapi mereka mengadakan kontes dalam acara N-Reptile Indonesia dan Musang Lover Regional Malang.
Acara itu juga diramaikan dengan bazar ular dan musang, sehingga pecinta reptile dapat membeli untuk menambah koleksi hewan peliharaan mereka. Harga yang dibandrol bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah sampai 25 juta rupiah. Harga tinggi tidak menyurutkan para pecinta reptile ini untuk mengoleksi hewan hewan tersebut.
Bagi sebagian masyarakat, hobi yang mereka geluti bisa dibilang ekstrim. Bagaimana tidak, ular mulai dari ukuran kecil sampai yang terbesar, menjadi layaknya teman akrab bagi mereka.
Sekilas, ular jenis phyton reticulatus, phyton mollurus dan phyton condro, terlihat ganas dan berbahaya. Namun, ditangan mereka hewan – hewan itu jinak dan layak dipelihara. Melalui komunitas inilah, mereka mencoba mengenalkan reptil kepada masyarakat, untuk meningkatkan kecintaan warga terhadap hewan ini dan tidak mengasingkannya.
Hampir setiap minggu pagi, mereka berkumpul di alun-alun kota untuk memamerkan hewan hewan tersebut. Tidak hanya ular, namun juga iguana, biawak, luwak, musang bahkan elang dan burung hantu.
Berawal dari kecintaannya terhadap ular, Agung Dharma (27) sang pemrakarsa mulai mengenalkan hewan peliaharaannya itu kepada teman temannya. Tak mudah untuk mengakrabkan hewan ini kepada manusia, namun akhirnya selang setahun kemudian, agung berhasil mengumpulkan orang – orang yang tertarik memelihara reptil.
“Maen ular udah sejak dulu, setelah kurang lebih setahun baru membentuk komunitas. Susah banget ngajak orang untuk cinta reptil. Memelihara hewan seperti ini juga gak sembarangan, gak hanya cukup dikasih makan saja. Kalau sama hewan itu harus dengan hati, biar bisa ngerawat dengan benar,” ujar Agung .
Sementara itu, menurut Eko Mook, salah satu anggota B-Retic, sebenarnya merawat ular itu tidak begitu sulit. Selain tetap menjaga kebersihan dan kesehatan hewan, makanan juga harus diperhatikan. “Biasanya dikasih makan tikus, marmot, kalau bisa sih ayam,” kata Mook.
Acara itu juga diramaikan dengan bazar ular dan musang, sehingga pecinta reptile dapat membeli untuk menambah koleksi hewan peliharaan mereka. Harga yang dibandrol bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah sampai 25 juta rupiah. Harga tinggi tidak menyurutkan para pecinta reptile ini untuk mengoleksi hewan hewan tersebut.

