Laba Berlimpah Bisnis Tape Bondowoso
![]() |
| Foto: dari Google |
BONDOWOSO - Tape, dalam bahasa Indonesia, sering pula disebut tapai. Tape adalah semacam penganan yang dibuat dari umbi singkong atau beras ketan yang terlebih dahulu melalui proses peragian.
Sentra produksi tape, sebenarnya hampir merata di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun demikian, sebagian orang cenderung menyukai produk tape dari Jawa Timur, yang memiliki beberapa produsen tape singkong dengan skala relatif besar. Daerah-daerah sentra industri tape tersebut, di antaranya Kota Probolinggo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso. Di antara daerah-daerah itu, Bondowoso paling menonjol dengan produk tape singkongnya.
Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bondowoso, rasanya akan kurang lengkap bila tidak membawa oleh-oleh berupa tape singkong sebagai makanan khas dari Kabupaten Bondowoso. Tape Bondowoso merupakan kuliner khas dari kabupaten di lereng Gunung Ijen, karena memiliki cita rasa khas tersendiri, yang berbeda dengan jenis tape lain semisal tape dari Bandung, Jawa Barat yang dikenal dengan nama peuyeum. Bahkan boleh dibilang, manisnya tape Bondowoso sampai saat ini belum ada yang menandingi.
Salah satu pembuat tape Bondowoso adalah Mat Rawi, warga Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso. Ketika ditemui Nyana, Mat Rawi mengatakan dalam sehari bisa menghabiskan bahan baku singkong sekitar empat ton untuk diproduksi menjadi tape. Jumlah bahan baku tersebut akan meningkat pada hari-hari tertentu, seperti Lebaran, yang bisa menghabiskan sampai enam ton singkong untuk diproduksi menjadi tape.
Menurut Mat Rawi, harga singkong sebagai bahan baku tape saat ini adalah sekitar Rp1.300/kg. Biasanya, ia justru lebih memilih harga singkong yang relatif lebih mahal daripada harga di pasaran, yang berkisar Rp.1000-1200/kg. Alasannya karena ia lebih mementingkan kualitas singkong sebagai bahan baku tape dengan ciri singkong yang besar dan agak kekuning-kuningan. Selain itu, usia singkong juga mempengaruhi rasa tape.
“Singkong muda jelas berbeda dengan singkong yang sudah tua,” jelas Mat Rawi, yang memulai usaha pembuatan tape sejak tahun 1980-an.
Dilanjutkannya, proses pembuatan tape sangat mudah sehingga siapa pun bisa menirunya. Tetapi ketika bicara soal rasa, proses peragian sangat menentukan kualitas rasa tape, apakah tape akan menjadi tape yang manis dan tahan lama atau sebaliknya. Mat Rawi menekankan, ada beberapa hal yang harus benar-benar diperhatikan untuk membuat tape yang agar memiliki kualitas rasa dan daya tahan yang baik.
“Pilih singkong kuning dari jenis yang bagus. Cirinya, singkong berukuran besar dan berwarna kekuning-kuningan, serta pilih ragi yang berkualitas baik,” katanya.
Dikatakannya, selama ini ia memakai ragi khusus yang dibelinya dari toko langganannya di Bondowoso. “Kalau anda pernah mencicipi rasa tape singkong yang rasanya kecut (asam), boleh jadi itu disebabkan karena mutu raginya yang kurang baik,” jelasnya.
Selanjutnya ia berpesan agar pembeli berhati-hati karena sekarang ini banyak tape manis namun tak alami karena ada tambahan pemanis buatan di dalamnya. Cirinya adalah adanya rasa pahit pada tape.
Di tengah-tengah kesibukan melayani pembeli, Mat Rawi menyatakan, pada saat proses pemberian ragi pada singkong, tangan harus benar-benar bersih. Ketika memberikan ragi pada singkong, tidak boleh dilakukan sembari bercakap-cakap, karena bakteri yang tersebar dari mulut bisa mengkontaminasi ragi, yang akhirnya akan berpengaruh kepada rasa tape yang dibuat.
Tidak kalah pentingnya, pilihlah lokasi penyimpanan tape yang kering dan tidak lembab serta terhindar dari cahaya secara langsung. Hal ini bertujuan agar proses fermentasi dapat berlangsung dengan sempurna, yakni menghasilkan tape yang matang secara menyeluruh dari luar hingga ke dalam, serta dari ujung ke ujung.
Setelah melalui proses peragian, tape dimasukkan ke dalam besek (keranjang bambu) dengan berbagai ukuran berat. Mulai dari 3 ons – 1 kilogram. Alas beseknya tidak boleh menggunakan plastik atau mika, karena akan mengurangi aroma tape. Sebaiknya alas besek dari daun pisang, karena bisa memberi aroma yang harum.
Tape produksi Mat Rawi dipasarkan ke Probolinggo dan Situbondo dengan harga Rp4000/besek. Sekali pengiriman, ujar Mat Rawi, tape buatannya biasa diangkut dengan menggunakan pikap yang diisi sekitar 25 keranjang.Di mana tiap satu keranjang besar bisa berisi sekitar 100 besek tape.
Di akhir wawancara dengan Nyana, Mat Rawi mengatakan bahwa prospek bisnis tape ini cenderung bagus dan menghasilkan untung berlimpah dikarenakan bahan baku singkong yang masih relatif murah serta proses pembuatannya yang sederhana, sehingga bagus untuk dijadikan bisnis. Tinggal bagaimana memberikan sentuhan-sentuhan untuk memperbaiki mutu serta kemasan, guna meningkatkan nilai jual serta daya saing tape di pasaran.
“Saya juga mulai membuat aneka makanan yang berbahan dasar tape, seperti dodol tape,brownies tape, prool tape serta tape bakar, yang harganya jauh lebih tinggi. Ini untuk menyiasati kalau-kalau pembeli mulai bosan dengan tape,” ujarnya sembari tertawa. (sr)
Sumber
