Kakek Ramidin Pelaku Seni Boneka Kathok Sejak tahun 1947
Boneka Kathok (foto: jawatimuran.wordpress.com)
Seni Tradisi Boneka Khatok, yang di prakarsai oleh (alm) Arji dan Ramidin, 77 tahun, lahir sekitar tahun 1947. Dua pemuda asal desa poncogati, Kecamatan Curahdami itu, bersama teman-temannya memang berusahan menciptakan seni tradisi itu menghibur warga desa setempat. Saat itu masyarakat bondowoso juga indonesia tengah di jajah oleh sekutu. sehingga, sekelompok pemuda penggiat seni tradisi itu keliling dari rumah ke rumah, untuk tanggapan seni boneka Khatok. Saat itu saya masih remaja, ikut almarhum Arji pembuat boneka khatok pertama, ungkap Ramidin yang kini berusia sekitar 78 tahun, kepada jurnalis lentera passopati yang menumuinya di rumahnya di jalan Diponegoro gang, malabar, Kota Kulon Bondowoso.
Ramidin yang di temani istinya , Rukiah, 72, masih tampak sehat dan kuat. Bahkan ingatannya masih kuat saat mengigat masa perjuangan. saat itu bangsa kita baru di jajah jepang . lalu datang pasukan sekutu yang ingin merebut kemerdekaan Indonesia. ujarnya. Ditengah krisis akibat penjajahan itu, Arji dan dirinya serta beberapa pemuda lainnya, membentuk kesenian ludruk. Namun pada masa penduduk tentara jepang, segala bentuk kesenian , seperti ludruk diberangus, kenangnya. Tetapi setelah pasukan jepang angkat kaki dari tanah air , Arji dan Ramdani serta teman-temanya, membuat kesenian bernama boneka Khatok.
Itu kami buat sekitar tahun 1947 atau 1948 ujarnya sambil menerangkan bahwa tentara jepang sempat mengejarnya dengan alasan seni boneka Kathok dianggap menebarkan kebencian kepada pasukan jepang. hal yang sama dialaminya saat datang tentara sekutu, Jadi masyarakat saat itu hidup dalam situasi yang mencekam. Tidak tenang karena penjajah itu, katanya.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, seni boneka Kathok ini, mendapat tempat di hati warga bondowoso dan sekitarnya. Apalagi, pada tahun 1953, Ramidin Cs, semakin giat mempopulerkan seni tradisi boneka Kathok. pada tahun 1953 itu, Alhamdulillah banyak sekali undangan taggapan, kenangnya. saat itu, kata Ramidin ia dan kelompoknya dibayar sebesar Rp. 5 Namun, hasil pertujukan itu, uangnya dibagi rata kepada para anggota, katanya. Alhamdulillah, uang itu cukup untuk menghidupi keluarga, katanya.
Dan dari tahun ke tahun seni boneka kathok ini terus memperoleh kejayaannya. kami bisa makan dari tanggapan boneka kathok ini, katanya sambil menyatakan biaya tanggapan boneka Kathok semakin lama semakin besar seiring dengan naiknya krus rupiah, Apalagi, saat itu harga beras hanya Rp. 2 per/Kilogramnya. katanya.
Seni Boneka Kathok yang tadinya hanya menghibur warga bondowoso yang tertekan karena penjajah, berubah menjadi seni entertainment (pertunjukan), Kami akhirnya bisa manggung dari desa ke desa untuk menghibur warga bondowoso, katanya. Bahkan, uang hasil pertunjukan bisa untuk biaya pendidikan anak-anak anggota seni boneka Kathok. Pokoknya sekitar tahun itu, kami berjaya, katanya. Namun, seni tradisi boneka Kathok sempat vakum saat terjadinya peristiwa G 30 S PKI. Saat itu kami benar-benar berhenti total akibat peristiwa Gestok, katanya.
Namun pada era 1970 dan 1980 an, Seni tradisi boneka kathok kembali berjaya. ''kami diundang tanggapan oleh warga saat merekan punya acara hajatan pengantinan atau sunatan'' katanya. Bahkan saat itu Ramidin Cs pernah menolak-nolak tanggapan, karena jadwal yang padat, katanya.
Kini, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, seperti adanya bioskop, internet, televisi, vcd, mp3, dvd, ponsel, komputer, serta berbagai kemajuan teknologi yang terus berkembang, kesenian kathok secara lambat laun mulai di tinggalkan oleh masyarakat. Bahkan bisa dikatakan seni tradisi boneka Kathok itu sepi peminat. Namun kesenia boneka Kathok ini pernah tampil di Balai pemuda surabaya pada tahun 2006 lalu atas undangan pemerintah provinsi jawa timur. Saat itu tema acaranya adalah "Seni Tradis Yang Hampir Punah" Katanya. Tentang isi cerita boneka khatok ini, Ramidin menceritakan tentang cerita rakyat, namun dibumbui humor kebanyakan, yang menyukai cerita ini adalah anak-anak.
Sumber: Tabloit Lentera, brangwetan
