Pak Pedro

Analisis Stuktural Tema dan Tokoh Cerita Dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 Karya Pedro Sudjon (Pak Pedro lahir di Bondowoso 31 Desember 1932. bersama Mohammad Diponegoro, Mendirikan teataer Muslim th 61 )

Karya sastra dapat tercipta setiap saat, karena karya sastra merupakan kreativitas dan rekaan pengarang berdasarkan pengalaman jiwa yang diperolehnya dari lingkungan kehidupan di sekitarnya. Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 dipilih sebagai bahan penelitian karena Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 merupakan naskah yang mengandung makna religius, dan cocok dikaji dari sudut struktural. Selain itu, untuk memahami karya sastra tidak cukup hanya mengerti jalan ceritanya saja, tetapi dibutuhkan pengetahuan tentang struktural untuk mengetahui jalan cerita. Tujuan penelitian adalah: 1) Mendeskripsikan tema cerita dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono, 2) Mendeskripsikan tokoh cerita dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono, 3) Mendeskripsikan penokohan dan perwatakan dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI tahun 1978 karya Pedro Sudjono.

Subjek penelitian ini yaitu Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono. Objek penelitian berupa tema dan tokoh cerita Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI tahun 1978 karya Pedro Sudjono. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa teknik baca catat. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini ialah kartu-kartu pencatat data yang digunakan untuk mencatat tema dan tokoh cerita. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan 1) Tema Cerita dalam Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono sebagai berikut (a) naskah “Keris” termasuk jenis tema beraliran realisme psikologis, (b) naskah “Tanpa Pamrih” termasuk jenis tema yang beraliran realisme sosial, (c) naskah “Ibu Mertua” termasuk jenis tema yang beraliran realisme sosial, (d) naskah “Tangan Terkutuk” termasuk jenis tema yang beraliran romantik, dan (e) naskah “Sebuah Novel” termasuk jenis tema yang beraliran realisme sosial


Perkembangan drama di Indonesia akhir-akhir ini begitu pesat. Hal ini terlihat dari banyaknya pertunjukan drama di televisi, drama radio, drama kaset, dan juga drama pentas. Organisasi remaja, baik di sekolah, universitas, karang taruna, maupun gelanggang remaja mempunyai seksi teater. Dalam acara-acara dan kegiatan kesenian belum afdol kiranya tanpa pertunjukkan drama. Demam drama sudah begitu meluas, sehingga jika televisi menyajikan drama, masyarakat pasti antusias menyaksikannya.

Membahas pementasan sandiwara atau drama merupakan kesenian yang sangat kompleks, sebab seni sandiwara atau drama bukan saja melibatkan banyak seniman, melainkan juga mengandung banyak unsur. Unsur-unsur itu saling mendukung dan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari keutuhan pementasan sandiwara atau drama. Karena itu, semua unsur pementasan sandiwara atau drama harus ada dan harus digarap dengan baik. Bila salah satu unsur dikerjakan sembarangan, maka pementasan sandiwara atau drama tidak akan berhasil. Bahkan tidak adanya salah satu unsur saja bisa mengakibatkan pementasan sandiwara atau drama tidak akan terwujud.


Istilah drama dan teater berasal dari kebudayaan Barat (Oemarjati, 1971: 14). Semula di Yunani istilah “drama” dan “teater” muncul sebagai dari upacara agama, yakni pemujaan terhadap para dewa. Pada zaman Aeschylus (525-456 S.M.) makna kata “drama” telah terkandung pengertian “kejadian”, “risalah”, “karangan” (Oemarjati, 1971: 14).

Menurut Waluyo (2003: 2) perkataan “drama” berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti: berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan, atau beraksi. Dalam kehidupan sekarang drama mengandung arti yang lebih luas ditinjau apakah drama sebagai salah satu genre sastra, ataukah drama itu sebagai salah satu cabang kesenian yang mandiri. Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Drama pentas adalah jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis (dekor, panggung), seni kostum, seni rias, dan sebagainya.


Wellek dan Warren dalam Nur Sahid (2008: 25) mengatakan drama termasuk salah satu genre sastra di samping novel, puisi, dan cerpen. Lebih. jauh Wellek dan Warren mengatakan sejak jaman Aristoteles drama telah dinyatakan sebagai salah satu genre sastra di samping epik dan lirik.

Drama juga sering disebut atau diidentikkan dengan sandiwara atau teater. Sandiwara adalah sebuah pertunjukkan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa Jawa. Sebuah sandiwara bisa berdasarkan skrip atau tidak. Apabila tidak, maka semuanya dipentaskan secara spontan dengan banyak improvisasi (pertunjukkan tanpa persiapan terlebih dahulu). Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa sandi yang berarti rahasia dan warah yang berarti ajaran. Sandiwara berarti ajaran yang disampaikan secara rahasia atau tidak terang-terangan. Hal tersebut dikarenakan lakon drama sebenarnya mengandung pesan atau ajaran (terutama ajaran moral) bagi penontonnya. Penonton menemukan ajaran itu secara tersirat dalam lakon drama. Misalnya, orang yang menebar kejahatan akan menuai kehancuran. sandiwara dapat dikatakan dengan seolah-olah, seperti atau menjadi yang lain. misalkan dalam pertunjukkan, sandiwara sebenarnya kata lain yang digunakan orang untuk menunjukkan bahwa ia sedang menjadi orang lain atau seperti orang yang diperankan. misalkan dalam tingkah laku, sandiwara dikatakan seolah-olah atau membujuk, menggunakan sandiwara agar orang lain percaya. Dalam bahasa Belanda kita kenal istilah “tonil” (toneel) yang mempunyai makna yang sama dengan sandiwara (Waluyo, 2003: 3).


Apabila menyebut istilah drama, maka kita berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu drama naskah dan drama pentas. Keduanya bersumber pada drama naskah. Oleh sebab itu pembicaraan tentang drama naskah merupakan dasar dari telaah drama. Naskah drama dapat dijadikan bahan studi sastra, dapat dipentaskan, dan dapat dipagelarkan dalam media audio, berupa sandiwara radio atau kaset. Pagelaran pentas dapat di depan publik langsung, dapat juga di dalam televisi. Untuk pagelaran drama di televisi, penulisan naskah drama sudah lebih canggih, mirip dengan skenario film (Waluyo, 2003: 2).


Jika dibandingkan antara naskah dan pentas, maka pentas lebih dominan dari naskah. Drama tradisional dan drama rakyat tidak menggunakan naskah. Unsur action, pagelaran, acting, pemeranan merupakan faktor yang dominan. Yang dipagelarkan adalah kehidupan manusia karena hidup ini adalah panggung sandiwara raksasa. Lebih sempit yang dipentaskan adalah tokoh-tokoh manusia dengan watak-wataknya. Watak-watak manusia yang dipotret dalam panggung itu adalah watak yang saling bertikai atau konflik. Konflik manusia ini merupakan dasar lakon, baik yang dituliskan maupun yang langsung dipagelarkan. Konflik manusia itu diwujudkan dalam dialog dan dalam pagelaran drama, konflik itu diwujudkan dalam bahasa tutur. Disebabkan oleh pentingnya dialog atau bahasa tutur ini, maka Marjorie Boulton menyebutkan bahasa tutur ini sebagai salah satu aspek drama yang penting di samping naskah dan pentas drama. Dalam pagelarannya, tutur itu dihidupi dengan keterlibatan fisik dan mental pemainnya (Waluyo, 2003: 3).


Menurut Waluyo (2003: 6-7) menyebutkan drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah satu genre sastra, drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog atau ragam tutur. Keunggulan naskah drama adalah pada konflik yang dibangun.


Konflik menentukan penanjakan-penanjakan ke arah klimaks. Jawaban dari konflik melahirkan suspense (tegangan) dan kejutan. Tingkat keterampilan menulis drama ditentukan oleh keterampilan menjalin konflik yang diwarnai oleh kejutan dan suspense yang belum pernah dicipta oleh pengarang lain. Naskah yang kuat akan menghasilkan pementasan yang bermutu. Ada hubungan timbal balik antara pengarang, naskah, pementaan, dan penonton drama (Waluyo, 2003: 31-32).


Dalam drama, M-1, diartikan menghayalkan, M-2 berarti menuliskan, M-3 berarti memainkan, dan M-4 berarti menonton. Dalam hal ini, naskah drama sebenarnya merupakan model paling utama untuk suatu pementasan drama yang baik, jika dipentaskan oleh sutradara dan aktor yang baik. Kemudian bagaimana menentukan naskah yang baik?


Dalam menilai suatu naskah, maka harus diperhatikan hal-hal berikut: Tema relevan dengan keperluan pementasan, konfliknya cukup tajam ditandai oleh plot yang penuh kejutan dan dialog yang mantap, watak pelakunya mengandung pertentangan yang memungkinkan ketajaman konflik, bahasanya mudah dihayati dan komunikatif, dan mempunyai kemungkinan pementasan.

Salah satu drama yang pernah ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah yaitu TVRI cabang Yogyakarta adalah drama televisi karya Pedro Sudjono. Drama tersebut bersumber dari “Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI” yang diterbitkan tahun 1978 yang juga karya Pedro Sudjono.

Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono diterbitkan pertama kali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tabligh Yogyakarta pada tahun 1978. Pedro Sudjono adalah salah satu tokoh pendiri Teater Muslim Yogyakarta. H. Pedro Sudjono yang akrab dipanggil Pak Pedro lahir di Bondowoso, tanggal 31 Desember 1932. Ayahnya bernama Harjo Prayitno dan ibunya bernama Hadidjah.

Pedro Sudjono menikah tahun 1960 dengan Siti Sumiwi yang berasal dari Kota Malang dan mempunyai 5 orang anak. Pedro Sudjono menempuh pendidikan terakhir di Sekolah Hakim Guru Agama (SHGA) Malang tahun 1956. Selanjutnya ia pindah ke Yogyakarta sebagai guru Sekolah Pendidikan Agama (PGA Negeri Yogyakarta). Pedro Sudjono bermain teater pertamakali bersama Syamsul Kamari dan berguru pada Kirjomulyo pada tahun 1957, kemudian bergabung dengan Grup APLACO (Artis Players Combination) pimpinan Pong Wan Yo (segenerasi dengan Rendra) untuk pentas tour kota se-Jawa. Tanda jasa yang pernah diterima oleh Pedro Sudjono berupa Bintang Satya Lencana karya Satya Tingkat III RI Tahun 1983 dan Penghargaan Prestasi Seni Drama dari Walikota Kota Madya Yogyakarta Tahun 1988. Mulai saat itu beliau mulai menggarap drama bertemakan keagamaan. Teater baginya adalah media dakwah. Pada tahun 1972 ia mulai pentas di TVRI Yogyakarta dan Surabaya, dalam acara Fragmen Mimbar Agama Islam.

Selain kegiatan teater, Pedro Sudjono aktif memberikan ceramah, sarasehan, lokakarya maupun diskusi. Selama mengabdi dalam dunia teater ia banyak mendapatkan penghargaan seni dari instansi pemerintah maupun swasta. Pedro meninggal dunia pada tahun 2007 dan dimakamkan di Pelem Gurih, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Selain seni teater Pedro Sudjono juga menguasai seni bela diri, dan seni sastra. Dari seni sastra ia telah banyak menulis naskah-naskah, baik untuk radio, televisi, maupun panggung. Bahkan naskah-naskah dramanya telah diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Tabligh) Yogyakarta. Hasil karya Pedro Sudjono berupa Naskah Sandiwara Panggung dan Televisi 150 Naskah, diantaranya Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978, Lahirnya Kejahatan, Umar bin Khatab, dan Pengorbanan Nabi Ismail.

Berdasarkan uraian di atas penulis merasa tertarik meneliti Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono dengan alasan sebagai berikut.

Pertama, Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono merupakan naskah yang cukup bermutu karena dijadikan tayangan dalam sandiwara televisi di TVRI Yogyakarta.

Kedua, naskah tersebut diterbitkan pertama kali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tabligh Yogyakarta pada tahun 1978. Hal tersebut mengindikasikan bahwa naskah tersebut memiliki beberapa pesan moral yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketiga, Pedro Sudjono adalah salah seorang penulis naskah drama yang produktif dan pendiri Teater Muslim yang terkenal pada masanya.

Keempat, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas penulis mengangkat Kumpulan Naskah Sandiwara TVRI Tahun 1978 karya Pedro Sudjono sebagai bahan untuk dianalisis secara struktural, khususnya analisis tema dan tokoh cerita guna mendapatkan bukti-bukti yang jelas tentang unsur-unsur yang membangun naskah tersebut sebagai satu kesatuan yang utuh.

Sumber: pondokskripsi.wordpress.com