Pemanfaatan Tinggalan Arkeologi Sebagai Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Bondowoso

Pemanfaatan Tinggalan Arkeologi Sebagai Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Bondowoso
Foto: M Ismuntoro

Bersama surat ini kami mengirimkan sebuah tulisan dengan  judul “Pemanfaatan Tinggalan Arkeologi Sebagai Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Bondowoso”. yang hanya dikirim ke Redaksi Online Info Bondowoso. Tulisan ini untuk menganalisis sejauh mana potensi tinggalan arkeologi di Kabupaten Bondowoso dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata baru.

Seperti diketahui bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor yang mempunyai keunggulan dalam penerimaan dan peningkatan PAD. “Culture Tourism” adalah merupakan bentuk pariwisata budaya  yang mengedepankan pengetahuan dan kelestarian lingkungan. Tulisan ini dikaji dari pendekatan “Culture Tourism” secara sederhana. Lewat tulisan ini masyarakat diharapkan mengetahui lebih jauh tentang potensi arkeologi agar dapat dijadikan objek dan daya tarik wisata (ODTW) sehingga masyarakat merasa memiliki peninggalan nenek moyangnya..

Wassalam


Hormat kami,


Hendro Wahyudi, M. Par

Alamat Rumah : Perum Griya Astari B 7 RT. 59 RW. 19
                             Desa Jurangsapi – Tapen – Bondowoso
                             HP. 08124929561 
Alamat Kantor   : SMK Negeri 2 Bondowoso
                          Jln. A. Yani. 48 Bondowoso

                          Telp. (0332) 421286  

PEMANFAATAN TINGGALAN ARKEOLOGI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA DI KABUPATEN BONDOWOSO

OLEH :

HENDRO WAHYUDI

Pariwisata

Pariwisata adalah salah satu fenomena kebudayaan global yang dapat dipandang sebagai salah satu sistem. Menurut konsep yang dikemukakan oleh Cooper, pariwisata terdiri dari tiga komponen yaitu
Wisatawan  ( Tourist ), Elemen Geografi ( Element Geografical ) dan Industri Pariwisata ( Tourism Industry )

Wisatawan merupakan komponen yang sangat penting dalam konsep ini, karena pariwisata pada hakekatnya adalah pengalaman manusia, sesuatu yang dinikmati, diantisipasi dan diingat sepanjang hidupnya. Elemen geografi meliputi pasar atau daerah yang dapat mendorong minat untuk berwisata, tujuan wisata dan daerah tempat transit dari suatu rute/perjalanan wisata. Elemen ketiga adalah industri pariwisata yang menyangkut tentang usaha atau bisnis dan organisasi yang mengatur produk pariwisata. Dalam model yang dikemukakan oleh Cooper tadi, ketiga elemen ini sangat terkait satu dengan yang lainnya sebagai satu sistem yang utuh yaitu pariwisata. 

Menurut UU RI No. 10.Tahun 2009 tentang kepariwisataan, Bab I Pasal I disebutkan bahwa, Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. 

Dalam hal ini maka, peninggalan purbakala yang terdapat di kabupaten Bondowoso kemungkinan besar mempunyai daya tarik tersendiri sehingga mampu menjadi daerah tujuan wisatawan. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa situs dan peninggalan arkeologi yang ada di kabupaten Bondowoso merupakan Living Monument, karena warisan budaya masa lalu itu masih tetap ada dan terjaga keasliannya bahkan sampai dikeramatkan oleh masyarakat setempat. 

Menurut penelitian yang telah dilakukan beberapa situs tinggalan arkeologi yang dapat dijadikan objek dan daya tarik wisata di kabupaten ini antara lain situs Wringin, situs Sukosari, situs Wonosari, situs Klabang, situs Tapen, situs Pujer, situs Tenggarang, situs Tamanan, situs Curahdami, situs Bondowoso, situs Grujugan, situs Cerme, situs Prajekan dan situs Tlogosari yang mempunyai nilai keindahan, ciri khas dan keunikan tersendiri.

Pariwisata Budaya

Menurut Lester Borley yang menyatakan bahwa pariwisata budaya merupakan aktivitas yang memungkinkan wisatawan untuk mengetahui dan memperoleh pengalaman tentang perbedaan cara hidup orang lain, merefleksikan adat istiadatnya, relegiusnya dan ide-ide intelektual yang terkandung dalam warisan budaya. Sedangkan menurut Boniface pariwisata budaya adalah jenis kepariwisataan yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan cara hidupnya serta hasil karyanya, teristimewa apabila hasil karya pada zaman dahulu. Mencermati hal tersebut di atas, maka situs dan peninggalan purbakala yang ada di kabupaten Bondowoso kemungkinan besar mempunyai daya tarik tersendiri sehingga berpotensi sebagai objek wisata 
( Tourist Attraction ).

Pemanfaatan Tinggalan Arkeologi Sebagai Objek dan Daya Tarik Wisata Budaya

Sesuai dengan batasan pariwisata budaya yang telah dikemukakan pada penjelasan di atas bahwa tinggalan arkeologi merupakan daya tarik wisata budaya yang sangat potensial. Menurut penelitian tentang benda-benda tinggalan arkeologi di kabupaten Bondowoso memiliki tingkat ilmu pengetahuan, nilai estetika dan sejarah yang sangat tinggi. Hal ini tampak pada kemampuan penerapan teknologi yang sudah dianggap maju dalam pendirian bangunan batu besar, pembuatan gerabah lokal serta penuangan logam. Sedangkan dari segi keindahan hal ini tampak pada pembuatan manik-manik sebagai hiasan serta pada setiap pahatan bangunan yang memiliki kekhasan tersendiri. Secara keseluruhan tinggalan arkeologi yang ada di kabupaten ini merupakan bangunan kuno yang terbuat dari batu yang diperkirakan dibuat pada 2500 tahun yang lalu atau pada zaman batu muda.

Tinggalan arkeologi di Bondowoso tampaknya sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam pengembangan pariwisata di kabupaten ini. Mengacu pada konsep Cooper, maka komponen daya tarik ( Attraction ) dan promosi tampaknya belum dimiliki atau kurang digalakkan terhadap objek atau peninggalan purbakala tersebut sehingga kurang dikenal oleh wisatawa. Pada umumnya para pengusaha Biro Perjalanan Wisata maupun Instansi pemerintah ( Dinas pariwisata ) yang ada di Bondowoso dan sekitarnya mengetahui keberadaan peninggalan purbakala ini, namun mereka kurang memahami nilai kesejarahannya. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai kendala tersendiri dalam upaya promosi dan pengenalan objek purbakala kepada wisatawan. Dalam konteks ini peran ahli arkeologi dituntut untuk lebih banyak menginformasikan nilai-nilai kesejarahan yang dimiliki oleh tinggalan arkeologi yang ada di kabupaten Bondowoso khususnya dan Jawa Timur pada umumnya. Dengan tersedianya informasi yang memadai tentang tinggalan arkeologi di kabupaten Bondowoso secara keseluruhan mungkin dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata tersebut sehingga pada akhirnya akan mendongkrak pendapatan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah Sendiri ( PADS ).

Pemanfaatan situs tinggalan arkeologi sebagai objek dan daya tarik wisata budaya di kabupaten Bondowoso sekaligus juga akan mendorong usaha pelestarian situs atau tinggalan arkeologi bersangkutan. Namun demikian, pemanfaatan situs dan tinggalan arkeologi sebagai objek dan daya tarik wisata diharapkan tidak menimbulkan atau meminimalkan dampak negatif pariwisata terhadap situs dan tinggalan arkeologi tersebut. Konsep daya dukung ( Carrying Capacity ) lingkungan fisik juga perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan pemanfaatan situs dan tinggalan arkeologi sebagai objek dan daya tarik wisata, selain itu perlu adanya zoning ( pemitakan ) terhadap situs arkeologi yang dimanfaatkan sehingga kelestarian situs tersebut senantiasa dapat dijaga. Peran aerkeolog sangat penting dalam mensosialisasikan nilai dan makna tinggalan arkeologi kepada masyarakat, pemerintah ( Dinas pariwisata ), pengusaha pariwisata dan wisatawan agar tinggalan arkeologi masa lalu itu tetap lestari dan menjadi Living monument. 

Penulis adalah Guru Pada SMKN 2 Bondowoso, Pemerhati Pariwisata, Alumni Magister Pariwisata Universitas Udayana.

Dikirim oleh Nama: Hendro Wahyudi, M. Par | Email: hendrowahyudi27@gmail.com | 9 Maret 2015, Pkl 09:49 pm | InfoBondowoso.NET menerima tulisan informasi seputar Bondowoso (news, essai, artikel, cerpen, info komunitas, kisah inspiratif, kuliner, wisata, etc). Kirim karya tulisan kalian untuk berkontribusi mendukung kabupaten/kota kita tercinta, melalui email: infobondowoso@yahoo.com