Melihat Road Show Teater Forum PAUD Bondowoso ke Kampung-kampung

Melihat Road Show Teater Forum PAUD Bondowoso ke Kampung-kampung
MENITI SEJARAH : Salah satu penampilan teater forum PAUD di Bondowoso. Mereka menampilkan budaya setempat yang sudah melekat di hati masyarakat.

BONDOWOSO, InfoBondowoso.NET - Sejak pekan lalu, forum pendidikan anak usia dini (PAUD) Bondowoso menggelar teater kampung. Selain sebagai sosialisasi pentingnya pendidikan ke masyarakat, melalui seni teater ini juga diharapkan kreativitas dan seni sudah diperkenalkan kepada anak sejak usia dini.

Bagi masyarakat Desa Prajekan Lor, Prajekan, nama Kiai Santawi adalah kebanggaan. Dia adalah simbol pemersatu masyarakat lokal saat melawan tirani penjajah Belanda. Peran Kiai Santawi kala itu, baik dalam agresi Belanda Jilid I maupun II cukup besar. Dia menjadi pemimpin pertempuran rakyat Bondowoso melawan penjajahan.

Sosok Kiai Santawi berani mengorbankan jiwa dan raga untuk tanah air tercintanya. Bahkan setelah ditangkap dan dijebloskan ke penjara, Kiai Santawi pada 1948 akhirnya dieksekusi mati oleh tentara Belanda. Kini jasadnya bersemayam di tanah kelahirannya. Desa Prajekan Lor Kecamatan Prajekan.

Nama asli Kiai Santawi sendiri adalah Sadriyan. Saat agresi militer Belanda jilid II, Kiai Santawi dipercaya sebagai pimpinan pasukan Hizbullah / Sabilillah anak cabang Prajekan.

Sebagai tokoh kala itu. Kiai Santawi pun terlibat dalam berbagai perang gerilya menghadapi penjajah Belanda. Perang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sesekali dari desa itu dia bersama pasukannya menyerbu pos Belanda di kota.

Saat di penjara Belanda, rantai tak pernah lepas dari tangan dan kaki Kiai Santawi. Kiai Santawi sempat menjalani proses peradilan. Pada putusan pertama, dia divonis hukuman mati. Keluarganya tak terima dan melakukan banding. Namun nasib tak berpihak. Saat putusan kedua, Santawi akhirnya dihukum mati.

Usai peluru Belanda menembus tubuhnya. Kiai Santawi tak langsung meninggal. Dia sempat meminta air minum. Kiai Santawi berkata kepada para penjaga penjara bahwa kesegaran air minum itu untuk keluarga dan anak-anaknya. Dari sipir-sipir penjara itu pulalah, menyeruak kabar tentang kematian Kiai Santawi yang diselimuti wangi bunga.

Itulah salah satu fragmen sejarah tentang Kiai Santawi yang diangkat dalam seni teater kampung. Dalam pementasan yang dilakukan di kawedanan lama yang kini menjadi kantor Desa Prajekan Lor tersebut, juga diangkat sejumlah fragmen lain. Di antaranya Srikandi Edan, Selendang Sutra hingga Sakera.

"Jadi yang tema kami angkat salah satunya adalah kisah-kisah sejarah kepahlawanan masyarakat lokal, yaitu Kiai Santawi," ujar Junaidi, pengurus Bidang Sosial dan Komunikasi Forum PAUD Bondowoso yang juga pengasuh teater dari Gabungan Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso.

Sejumlah pemain teater dari berbagai sekolah di Bondowoso dilibatkan dalam tater kampung tersebut. Mulai dari Teater Rayap SMA 1 Tenggarang, Teater Jernih SMA 2 Bondowoso dan Teater Arwah MAN Bondowoso. Kegiatan itu juga didukung dengan musik etnik dari kelompok Gerbong Maut Etnik Bondowoso.

Namun begitu, sejumlah pemain lokal dari desa setempat juga dilibatkan. Di hadapan penonton yang juga anak-anak PAUD dan TK, mereka tampil serius dan berusaha seoptimal mungkin. "Sejumlah guru-guru PAUD juga kami ajak untuk ikut main teater," ujar Junaidi.

Kehadiran teater kampung ini diharapkan menjadi ajang pengenalan sejarah dan budaya masa lalu bagi masyarakat sekitar. Karena itulah, tak hanya menampilkan pertunjukan teater, kegiatan tersebut juga diisi dengan sejumlah seni pertunjukan lainnya. Salah satunya adalah seni pertunjukan permainan tradisional.

Dalam seni pertunjukan tersebut, yang ditampilkan adalah permainan te' kete'kan (petak umpet). Selain itu ada juga tari tradisional Tang Adhet (budayaku) yang dimainkan oleh guru-guru PAUD. "Permainan tradisional ketika ditampilkan menjadi seni pertunjukan ternyata juga sangat menarik. Misalnya permainan lari karung sampai lari samper (batik, kain untuk bawahan wanita) estafet, sangat menghibur," ujar Junaidi.

Berbagai agenda kegiatan itu dimaksudkan untuk lebih mengenalkan pentingnya pendidikan anak usia dini kepada masyarakat. Namun yang lebih penting lagi, adalah bagaimana mengenalkan kreativitas dan seni tradisi kepada anak-anak usia dini itu sendiri.

Diagendakan, teater kampung dengan berbagai seni tradisi dan permainan tradisional itu juga akan di gelar di 23 kecamatan secara bergiliran. "Kegiatan ini merupakan kegiatan dari Forum PAUD yang digagas oleh Bunda PAUD Ibu Faizah yang nanti akan digelar di seluruh kecamatan," ungkapnya.

Menariknya, cerita atau lakon yang akan dibawakan dalam setiap pertunjukan teater akan berubah-
ubah. Termasuk juga permainan tradisional dan pertunjukan seni tradisinya. "Kami akan menyesuaikan dengan sejarah maupun seni budaya yang sudah melekat di daerah masing-masing," pungkas Junaidi.


- Jawa Pos, 16/09/14 -